motor berbahan bakar nasi

Koran Tempo 01/06/2002. Perhitungan yang ditunggu-tunggu itu akhirnya diumumkan juga minggu lalu, "... dan pemenangnya adalah konsumsiii swastaaa...."

Tidak ada tepuk tangan, tidak ada riuh gemuruh. Seperti biasanya pascapengumuman pertumbuhan ekonomi kuartalan oleh Biro Pusat Statistik akhir-akhir ini, sebagian pengamat bahkan seperti koor meneriakkan, "Buuu..." bernada merendahkan. Padahal, prestasi konsumsi swasta luar biasa. Bayangkan, konsumsi swasta telah belasan kuartal menjadi motor pertumbuhan ekonomi, praktis sejak ekonomi Indonesia mulai bangkit dari resesi pada kuartal ketiga 1998 lalu.

Apa pasal? Konon, konsumsi swasta, salah satu komponen ekonomi makro, tidak secantik dan seseksi pesaingnya, investasi dan net-ekspor. Bahasa kerennya, consumption-led growth tidak sustainable; tidak mungkin menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan. Apa benar demikian?

Pendapat sebagian pengamat yang mengerdilkan peranan konsumsi sebenarnya agak mengherankan. Konsumsi sebagai motor pertumbuhan tidak mungkin lebih buruk; paling tidak konsumsi sebagus dan seandal motor pertumbuhan lainnya. Bahkan, sering kali, pertumbuhan yang dimotori konsumsilah yang justru paling ideal.

Keunggulan konsumsi sangat jelas. Pertama, konsumsi merupakan komponen ekonomi yang paling besar, mencakup dua pertiga dari ekonomi. Dengan demikian, konsumsi potensial menjadi motor pertumbuhan berdaya tinggi: kalau konsumsi tumbuh tinggi, ekonomi secara keseluruhan juga potensial tumbuh tinggi.

Kedua, tren perkembangan konsumsi cenderung lebih persisten dibandingkan dengan investasi atau net-ekspor. Tingkat keyakinan konsumen memiliki inersia yang tinggi. Sekali konsumen mulai belanja, tanpa shock yang luar biasa pada ekonomi, mereka akan terus belanja dan meningkatkan belanjanya.

Ketiga, konsumsi di Indonesia juga tidak terlalu sensitif pada tingkat suku bunga. Bagian terbesarnya merupakan non-durable goods, terutama makanan. Dengan demikian, sekalipun kebijakan moneter belum akan diperlonggar, masyarakat akan terus membutuhkan makanan dan non-durable goods lainnya sehingga konsumsi tetap bisa diharapkan mampu mengusung pertumbuhan.

Keempat, tujuan akhir dari semua kegiatan ekonomi adalah konsumsi. Dengan begitu, peningkatan konsumsi yang tinggi sulit untuk tidak disyukuri karena ini sering mengindikasikan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Lebih jauh lagi, peningkatan konsumsi bisa menjadi fondasi dan pendorong utama kebangkitan investasi, terutama investasi bisnis.

Yang mungkin paling penting, dinamika konsumsi sebagian besar tergantung pada dinamika ekonomi domestik, lebih terisolasi dari perkembangan ekonomi dunia. Dengan demikian, sekalipun ekonomi dunia gonjang-ganjing, ekonomi Indonesia yang didorong oleh konsumsi bisa tetap berkibar.

Bandingkan dengan pertumbuhan yang dimotori oleh investasi atau net-ekspor yang konon lebih andal itu. Berbeda dengan ekonomi yang lebih maju, seperti Amerika Serikat (AS) atau Eropa, investasi di Indonesia didominasi oleh investasi bangunan dan rumah tinggal, bukan oleh investasi bisnis berupa mesin dan peralatan (business-fixed investment). Dari total kue ekonomi, investasi bisnis kurang dari 10 persennya. Karenanya, investasi secara sendirian sulit diharapkan untuk mendongkrak perekonomian.

Di samping itu, investment-led growth tidak berkelanjutan karena investasi hanya bagus kalau memang diperlukan. Investasi bisnis yang berlebihan dibandingkan dengan kebutuhan ekonomi bisa menciptakan ekonomi gelembung yang dapat meledak sewaktu-waktu. Ekonomi AS pada paruh kedua dekade lalu, misalnya, sebagian didorong oleh ekspansi investasi berbasis teknologi informasi yang ternyata kemudian meledak. Terutama karena persistensi konsumsi swastalah kemudian ekonomi AS bisa terhindar dari slowdown yang parah.

Apalagi selama beberapa tahun pascaresesi, ekonomi Indonesia sebetulnya tidak terlalu membutuhkan investasi bisnis secara besar-besaran. Kapasitas produksi industri yang terpangkas puluhan persen pada 1998 lalu mungkin masih mampu menyerap ekspansi ekonomi moderat sampai 2002 ini.

Pertumbuhan berbasis ekspor juga tidak lebih baik. Ekspor hanya akan sustainable sebagai motor sepanjang pertumbuhan ekonomi dunia juga sustainable. Faktanya, perkembangan ekonomi partner dagang utama Indonesia, khususnya AS dan Jepang, bisa turun naik secara drastis seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. Akibatnya, resesi atau slowdown di AS atau Jepang bisa membuat ekspor dan impor kontraksi yang kemudian ekonomi domestik juga melambat.

Resesi ekonomi atau slowdown di Singapura, Malaysia, dan Korea tahun lalu, misalnya, terutama dipicu oleh penurunan kinerja ekonomi AS. Ketiga ekonomi ini memiliki ekspor barang elektronik ke AS yang sangat besar. Ketika gelembung industri informasi di AS meledak, ekspor Singapura, Malaysia, dan Korea ke AS pun mengalami kontraksi hebat. Perlambatan ekonomi Indonesia dari hampir 5 persen tahun 2000 menjadi 3,3 persen tahun lalu juga terutama akibat transmisi slowdown ekonomi AS tersebut.

Ironisnya, sikap skeptis sebagian pengamat pada consumption-led growth yang pada tiga tahun terakhir tidak berdasar, pada beberapa tahun mendatang akan semakin relevan. Sejalan dengan ekspansi ekonomi secara kontinu sejak kuartal ketiga 1998, tingkat penggunaan kapasitas produksi telah meningkat cukup signifikan. Akibatnya, tanpa peningkatan investasi bisnis, ekspansi ekonomi potensial terhambat.

Untungnya, menurut statistik BPS, tren investasi bisnis sudah cenderung positif sejak kuartal kedua tahun 2000 lalu, sekalipun dengan pertumbuhan yang relatif rendah. Survei prospek investasi bisnis pada sisa 2002 ini juga cenderung positif. Harapan kita, sejalan dengan laju konsumsi swasta yang tetap tinggi sampai kuartal pertama 2002 ini, dunia industri akan makin "dipaksa" untuk meningkatkan kapasitas produksinya kalau ingin menyerap peningkatan permintaan dan tetap mempertahankan pangsa pasar.

Jadi, tanpa gonjang-ganjing politik yang luar biasa, motor pertumbuhan berbahan bakar nasi ini pada akhirnya akan mendorong investasi bisnis sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi dan tetap berkelanjutan.*