becermin dari skandal worldcom

Koran Tempo 30/07/2002. Indeks Nasdaq di bursa Chicago, Amerika Serikat (AS), terjun bebas 40 persen sejak Januari lalu. Dalam tiga bulan terakhir, indeks Dow Jones di bursa New York bahkan sempat jatuh lebih dari 25 persen. Gempa tektonik bursa AS ini kemudian mengirimkan gelombang kejut yang menggoyang seluruh dunia, mulai dari bursa Tokyo, London, Karachi, sampai Jakarta.

Semua ini akibat kejahatan kerah putih manajemen perusahaan, teriak publik AS yang gusar. Manajemen perusahaan AS menggelembungkan keuntungan, merias pengeluaran sehingga seperti penerimaan, bahkan menciptakan aset dan pengeluaran fiktif untuk menyulap laporan keuangan. Lebih dramatis lagi, pelakunya bukan sembarang perusahaan. Enron, misalnya, perusahan terbaik AS yang dulu dipuja hampir semua analis bisnis. WorldCom adalah perusahaan terbesar kedua industri telekomunikasi AS; Merck salah satu pemain utama industri farmasi; atau Xerox, siapa yang tidak kenal?

Tapi, apa benar begitu?

Manajemen beberapa perusahaan yang berkomplot dengan akuntan publiknya, bisa jadi, telah merekayasa laporan keuangan untuk membohongi publik. Akibatnya, investor tidak percaya lagi pada laporan keuangan. Lalu, kalau laporan keuangan meragukan, bagaimana investor membaca kesehatan dan prospek perusahaan? Sudah belasan perusahaan mengaku salah hitung, entah berapa lagi akan menyusul. Indeks saham tidak punya jalan lain, kecuali meluncur turun.

Sekalipun begitu, skandal keuangan hanya salah satu pemicu kejatuhan bursa AS. Mungkin sebagian kasus salah hitung keuntungan adalah ekses optimisme berlebihan manajemen pada prospek bisnis mereka. Sampai beberapa tahun lalu, terbius prospek bisnis teknologi, dunia bisnis AS masih tenggelam dalam euforia "ekonomi baru". Waktu itu, saham perusahaan bisa meroket ke langit ketujuh sekalipun rugi terus.

Kelemahan sistem akuntansi pun berperan besar. Sistem akuntansi saat ini tidak mampu menangkap pesatnya perputaran uang perusahaan modern. Dulu, sebagian besar kekayaan perusahaan adalah aset nyata, seperti gedung dan mesin, sekarang aset gaib, seperti merek, citra perusahaan atau goodwill, makin dominan. Apalagi, evolusi perusahaan modern dengan konglomerasi, melahirkan anak perusahaan, atau sewa-menyewa aset makin mengaburkan batas-batas tradisional perusahaan.

Di atas semua itu, kejatuhan bursa AS juga mengoreksi apa yang disebut Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS, "kegairahan investor yang tak masuk akal". Bayangkan, sejak 1995, indeks Nasdaq, misalnya, sempat meningkat hampir enam kali lipat hingga mencapai puncaknya tahun 2000 lalu. Tapi, indeks meningkat tajam semata-mata karena investor terlalu optimistis "ekonomi baru" akan meningkatkan produktivitas ekonomi dan merevolusi dunia bisnis. "Ekonomi baru" memang meningkatkan produktivitas, tapi ternyata tidak cukup tinggi untuk mendukung indeks yang berlipat ganda.

Sayangnya, semuanya seperti tenggelam dalam ingar-bingar gerakan pengkambinghitaman manajemen perusahaan AS. Pemerintah, politisi, dan komentator seperti menutup mata pada masalah yang sebenarnya lebih rumit. Optimisme berlebihan pada "ekonomi baru", evolusi bisnis modern, dan "kegairahan investor yang tak masuk akal", seperti tidak penting. Seakan-akan, setelah manajer jahat ditangkap dan sistem akuntansi diperketat, indeks akan melonjak ke tingkat semula.

Sistem akuntansi memang perlu diperbaiki supaya lebih akurat mengukur kinerja perusahaan, konflik kepentingan antara manajemen dan akuntan publik perlu diatasi, tapi indeks mungkin tidak akan meningkat kembali seperti dulu. Bahkan, dikhawatirkan beberapa tuntutan reformasi sudah kebablasan. Kongres, misalnya, sedang mempertimbangkan aturan pukul rata yang bisa memvonis kesalahan pertimbangan bisnis sebagai kejahatan kalau merugikan investor. Kalau ini menjadi undang-undang, sistem akuntansi AS akan berubah dari yang paling fleksibel di dunia menjadi salah satu yang paling ketat.

Merespons tuntutan reformasi, beberapa manajemen perusahaan AS secara proaktif memperbaiki diri. Baru-baru ini, Coca-Cola, misalnya, atas inisiatif sendiri, mengoreksi laporan keuangan dengan memasukkan beberapa pos pengeluaran tambahan (seperti stock option) yang selama ini secara kontroversial dianggap bukan pengeluaran.

Baiklah. Semua ini terjadi di AS, nun jauh di belahan bumi sana. Lalu, apa artinya bagi kita di sini?

Banyak yang bisa kita pelajari. Pertama, kita diingatkan kembali bahwa sistem kapitalisme tidak pernah sempurna. Sepanjang sejarahnya, kapitalisme telah dan masih akan terus jatuh bangun. Berbagai krisis akan terus menantang keberadaan kapitalisme dan mendorong kritik internal untuk memperbaiki institusi pasar pendukungnya.

Dibanding AS, sistem ekonomi Indonesia mungkin masih seperti anak ingusan. Institusi pendukung pasar kita lemah sehingga, untuk memperkuatnya, sangat banyak yang perlu kita lakukan. Perbaikan sistem akuntansi dan pemeriksaan laporan keuangan oleh akuntan publik termasuk di antaranya.

Kedua, sistem insentif, pemberian penghargaan dan hukuman, sangat berperan dalam sistem pasar. Sistem ini perlu dirancang dengan hati-hati, karena kadang insentif yang menurut kita bagus ternyata dalam prakteknya gagal total. Pemberian stock option pada manajer, misalnya, dulu diharapkan mendorong manajemen lebih memaksimalkan nilai perusahaan. Ternyata, karena kelemahan sistem akuntansi, manajer justru tergoda merias laporan keuangan seindah mungkin untuk medongkrak saham sehingga bisa meraup kekayaan dari penjualan saham pada harga yang sangat tinggi.

Ketiga, skandal selalu membakar kegusaran publik dan melahirkan gelombang reformasi. Kadang, pendulum reformasi bergerak terlalu jauh ke arah berlawanan sehingga masalah tidak saja tak teratasi, bahkan bisa memunculkan masalah baru.

Keempat, untuk mengurangi dampak kebablasan reformasi, perusahaan swasta dituntut lebih proaktif merespons perubahan. Sebelum politisi bertindak terlalu jauh, manajemen perusahaan seharusnya selalu berusaha meregulasi sendiri bisnis mereka serta memperbaiki etika dan standar bisnis.

Kelima, investor perlu selalu ingat pada bahaya "kegairahan tak masuk akal" yang menjangkiti AS beberapa tahun lalu. Investasi di bursa sangat menguntungkan, tapi risikonya tinggi. Jadi, kehati-hatian investor selalu mutlak diperlukan.

AS, dalam dua atau tiga bulan, mungkin sudah mengatasi masalah mereka. Kita masih akan bergumul dengan segudang penyakit ekonomi akut. Entah kita mau belajar atau tidak.*