menganggur gara-gara bank indonesia

Koran Tempo 02/07/2002. Bank Indonesia (BI) mungkin akan berbahaya bagi kesehatan finansial Anda. Gara-gara BI, kenaikan gaji Anda bisa tertunda atau saudara Anda yang menganggur makin lama di bangku pengangguran.

Uang biang keladi semua ini. Sejak awal tahun ini, BI telah menurunkan ekspansi suplai uang beredar di masyarakat secara drastis. Bayangkan: uang koin, uang kertas, dan giro yang tumbuh normal sekitar 20 persen tahun lalu, tumbuh hanya 10-12 persen saat ini. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia akhir-akhir ini memang cenderung turun, tapi bukan berarti kondisi keuangan akan lebih longgar. Suku bunga kredit modal kerja, misalnya, masih tetap lebih dari 19 persen. Dengan pembatasan ekspansi suplai uang yang terus berlanjut, besar kemungkinan suku bunga kredit justru akan makin tinggi.

Seperti kata pepatah, uang yang membuat dunia berputar. Kalau uang yang beredar terlalu sedikit, perkembangan transaksi ekonomi bisa terhambat. Seperti mesin yang kekurangan oli, mesin ekonomi cepat kepanasan dan, kalau terlalu lama, bisa jebol. Suplai uang yang terbatas membuat suku bunga tinggi, investasi turun, penciptaan lapangan kerja berkurang, keuntungan perusahaan lebih rendah, dan ekspansi ekonomi melambat.

Langkah BI memperlambat ekspansi suplai uang untuk menurunkan inflasi dari hampir 13 persen tahun lalu menjadi 9-10 persen tahun ini mudah dimengerti. BI telah menerima mandat dari DPR sebagai institusi penjaga tingkat harga. Kalau inflasi tahun ini tetap tinggi, rapor Dewan Gubernur bisa penuh dengan angka merah.

Inflasi rendah dan stabil tentu sangat bagus. Masalahnya, target penurunan inflasi 3-4 persen tersebut terlalu ambisius. Secara praktis, target ini juga tidak realistis. Kalau tetap dipaksakan, ekonomi Indonesia bisa jatuh sekaligus tertimpa tangga: inflasi tahun ini tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi bisa melambat.

Pertama, mengendalikan ekonomi dengan kebijakan moneter ibarat mengemudikan kapal tanker raksasa. Nakhoda bisa memutar kemudi dengan cepat untuk mengubah haluan, tapi kapal hanya akan berubah arah secara sangat perlahan. Akibatnya, perubahan arah kapal ke jalur yang diinginkan hanya bisa terjadi setelah selang waktu tertentu.

Begitu juga dengan kebijakan moneter. BI, dalam waktu singkat, bisa menurunkan ekspansi suplai uang, tapi untuk membuat kebijakan moneter ini memengaruhi ekonomi secara signifikan perlu waktu yang lama. Pengetatan moneter tidak serta merta menaikkan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga kredit juga tidak langsung menurunkan investasi karena rencana investasi umumnya dilakukan dalam jangka panjang. Apalagi ekspektasi masyarakat sangat tergantung pada kredibilitas kebijakan moneter yang saat ini masih sedang dibangun BI. Akibatnya, sekalipun sekarang kebijakan moneter diperketat, dampaknya pada ekonomi baru akan terasa secara signifikan setelah beberapa semester atau tahun mendatang.

Pada ekonomi yang memiliki mekanisme transmisi moneter efektif, seperti Amerika Serikat, pengaruh kebijakan moneter baru terasa pada ekonomi riil secara signifikan setelah 6-18 bulan. Pengaruhnya pada inflasi jauh lebih lama lagi, bisa 1-3 tahun, atau bahkan lebih. Jadi, sekalipun ekspansi suplai uang dikurangi secara drastis sekarang, dampaknya pada inflasi belum akan terasakan, sementara dampak kontraksinya pada output mungkin bisa dirasakan secara signifikan mulai akhir tahun ini.

Kedua, kalau kebijakan moneter akomodatif, ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya potensial tumbuh lebih tinggi. Ruang ekspansi ekonomi cukup besar karena ekonomi saat ini masih di bawah tingkat potensialnya. Beberapa survei sektor manufaktur akhir-akhir ini menunjukkan kapasitas terpakai industri masih relatif rendah. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2002 ini juga masih lebih rendah dari puncak PDB sebelum resesi 1997 lalu.

Tidak hanya ruang ekspansinya yang masih lebar, potensi kekuatan ekspansi ekonomi Indonesia juga cukup tinggi. Sejak tahun 2000 lalu sampai sekarang, permintaan domestik (ekonomi agregat minus ekspor) tumbuh 7-9 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi agregat terpangkas menjadi hanya 3-5 persen, terutama karena penurunan kinerja net-ekspor. Kalau pemulihan ekonomi AS terjadi lebih cepat seperti yang diperkirakan, kinerja net-ekspor Indonesia bisa membaik sehingga ekonomi agregat potensial tumbuh lebih dari 4 persen tahun ini.

Hanya saja, sekali lagi, potensi pertumbuhan alamiah ini hanya mungkin terealisasikan kalau kebijakan moneter akomodatif. Sebaliknya, kalau BI terlalu mengetatkan kebijakan moneter, potensi pertumbuhan ini bisa terbuang sia-sia.

Di samping itu, ketidaksukaan dan ketakutan BI pada inflasi tinggi di Indonesia sebenarnya kurang beralasan. Secara historis, inflasi di Indonesia cenderung moderat. Sepanjang dekade 1970-an, sekalipun BI belum independen, inflasi cukup stabil pada tingkat 10 persen. Pada 1998 inflasi memang lebih dari 80 persen, tapi setahun kemudian inflasi bisa ditekan ke tingkatnya semula sampai sekarang.

Apalagi, inflasi yang lebih tinggi dari 10 persen akhir-akhir ini hanya bersifat sementara. Penyebab utamanya bukan permintaan agregat yang berlebih, tapi ekspektasi inflasi yang masih tinggi, hambatan pada distribusi barang akibat bencana, depresiasi kurs beberapa waktu lalu, dan kenaikan harga beberapa komoditas energi dan pangan sebagai konsekuensi pengurangan subsidi.

Sebaiknya, BI tidak kebablasan mengetatkan moneter dan menurunkan suplai uang. Target inflasi tahun ini juga perlu lebih realistis sehingga kebijakan moneter tidak sampai mengorbankan ekspansi ekonomi. Mengingat kebijakan moneter membutuhkan waktu lama untuk mengubah haluan ekonomi, inersia inflasi yang masih tinggi, serta kenaikan harga-harga komoditas energi dan pangan akibat pengurangan subsidi, target inflasi tahun ini cukup 11-12 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi potensial 4 persen, ekspansi suplai uang perlu dinaikkan sedikit menjadi 15-17 persen.

Karena kebijakan moneter hanya bisa memengaruhi harga dalam waktu yang lama, target penurunan inflasi pun sebaiknya lebih berjangka panjang, 5-10 tahun. Dengan demikian, BI bisa secara lebih gradual menurunkan inflasi ke tingkat 6-7 persen. Pada saat yang sama pengetatan moneter ini tidak sampai menghambat penciptaan lapangan kerja serta memperlambat pemulihan ekonomi.

Bagaimana Bank Indonesia?*