karunia piramida alam raya

Koran Tempo 04/09/2002. Pemodal PT Qurnia Subur Alam Raya ibarat gadis lugu yang "dicopet" orang buta. Menangis tersedu, sang gadis bercerita dia tidak menyangka orang itu tega menipunya. Katanya, orangnya sangat simpatik dan tutur katanya lembut. Itu sebabnya, dia begitu saja memasukkan gelang dan cincinnya ke kantong pencopet buta itu, dan bahkan menunjukkan padanya arah jalan pulang.

Bukan analogi yang cantik, memang. Para pemodal juga tak akan sudi dituduh selugu itu. Tapi, kalau kasus Alam Raya ini kita kupas kulitnya, memang begitulah adanya.

Konsekuensinya suram. Pemerintah boleh memperketat peraturan dan polisi bekerja lebih keras menjaga keamanan. Tapi, kalau masyarakat begitu saja menyerahkan uangnya pada pencopet, kasus seperti ini pasti akan berulang dan terus berulang.

Bayangkan, apa yang terjadi kalau Ramli Araby, Direktur Utama Alam Raya, menawarkan tingkat keuntungan hanya 20 persen per tahun kepada pemodal?

Berani bertaruh, tidak banyak yang tertarik. Secara naluriah, pemodal sadar menanamkan uang pada agrobisnis yang dikelola orang tak dikenal bernama Ramli Arabi risikonya tinggi. Tambahan tingkat keuntungan 5 persen dibanding suku bunga deposito bukan harga yang sepadan untuk risiko ini. Apalagi, dengan sedikit keberuntungan, orang bisa membeli reksadana dengan tingkat keuntungan 20-30 persen dan risiko yang jauh lebih rendah.

Itu sebabnya, Ramli mempermanis penawarannya dengan tingkat keuntungan lebih dari 60 persen per tahun. Itu pun belum cukup. Ramli masih harus meyakinkan calon pemodal bahwa dia orang yang bisa dipercaya dan Alam Raya bukan perusahaan kacangan. Konon, tutur kata Ramli halus dan sikapnya alim sehingga sebagian pemodal langsung terpikat padanya. "Iklan televisi" dengan bintang pejabat tinggi negara sekaliber Ketua MPR Amien Rais dan Wakil Presiden Hamzah Haz pun tak lupa digelar.

Strategi Ramli yang mungkin paling efektif mencocok hidung pemodal adalah promosi dari mulut ke mulut. Setelah mendengar atau melihat sendiri saudara atau tetangga mereka meraup keuntungan besar seperti yang dijanjikan, keraguan calon pemodal pun perlahan pupus. Apalagi kemudian mereka ikut bermain dan menikmati sendiri buah investasi itu. Dengan investasi awal Rp 5 juta, misalnya, mereka bisa mendapat Rp 800 ratus ribu setiap tiga bulan. Siapa yang tidak tergiur, bukan?

Beberapa bulan lalu, ketika Alam Raya masih berkibar, hampir tak ada yang yakin seratus persen Alam Raya akan hancur berantakan dalam waktu singkat. Pemodal, pejabat pemerintah, dan pengamat mungkin ada yang sudah curiga Ramli hanya penipu ulung yang sejak awal berniat menyelewengkan uang pemodal untuk memperkaya diri; tapi mereka juga mungkin masih berharap siapa tahu Ramli pengusaha jujur dan jenius yang menemukan cara cepat memutar uang.

Setelah Alam Raya bangkrut pun masih ada yang berharap Ramli hanya terlalu optimistis pada prospek agrobisnis, tidak bermaksud menipu sama sekali. Ramli mungkin hanya orang lugu yang merajut tali gantungannya sendiri dengan menjanjikan tingkat keuntungan berlipat ganda. Dalam jangka pendek, semua mungkin berjalan lancar. Tapi, ketika biduk bisnis mulai terantuk karang dan sumber keuntungan perusahaan mengering, Ramli terperangkap pada metode klasik pengganda uang, membayar kewajibannya pada pemodal lama dengan setoran pemodal baru.

Memang begitulah keindahan penipuan piramida, mesin pengganda uang yang dipopulerkan Charles Ponzi di Amerika Serikat (AS) pada 1920-an. Sering penipuan piramida begitu berkilauan sehingga membutakan pemodal sampai semuanya terlambat.

Tentu agrobisnis bisa sangat menguntungkan. Pada 1999 Alam Raya mungkin saja untung besar 40-60 persen karena kombinasi panen yang berhasil dan harga tinggi. Tapi, cepat atau lambat, seperti main ular tangga, kita tidak bisa selalu mendapat angka enam untuk memperoleh kesempatan tambahan melempar dadu dan pada saat yang sama menghindari kotak berisi ular. Panen produk pertanian sangat mungkin gagal karena cuaca buruk; hama bisa menyerang sewaktu-waktu tanpa diduga; kurs rupiah gonjang-ganjing tak keruan; dan kalaupun panen berhasil, harga sering turun tajam.

Ketika landasan piramida dibangun sejalan dengan makin banyaknya pemodal, kalau diperlukan, Ramli bisa membayar bunga berlipat ganda kepada pemodal generasi pertama dari setoran pemodal baru. Akan tetapi, pada akhirnya piramida tidak bisa membubung tinggi ke langit tanpa batas; cepat atau lambat piramida pun mengerucut. Ketika bisnis tak kunjung membaik, dan orang yang bisa dijaring makin sedikit, penerimaan perusahaan mulai mengering dan akhirnya Alam Raya pun bangkrut.

Kita telah melihat penipuan piramida seperti ini terjadi berulang-ulang dan masyarakat seperti tidak pernah kapok. Kasus Arisan Danasonic, Yayasan Keluarga Adil Makmur, atau Suti Kelola, misalnya, seperti baru terjadi kemarin sore. Saat ini lebih dari 40 perusahaan seperti Alam Raya menawarkan tingkat keuntungan berlipat ganda. Mungkin waktu yang akhirnya menjawab apakah perusahaan tersebut akan bernasib sama dengan Alam Raya atau tidak.

Penerus Ponzi juga tidak hanya ada di negara berkembang seperti Indonesia. Di California, Amerika Serikat, beberapa minggu lalu, seperti diceritakan Tajuk Koran Tempo, 29 Agustus, seorang pengusaha penipuan piramida diganjar penjara 25 tahun karena menipu 200-an pemodal. Pertengahan 2001 Inggris diramaikan arisan Women Empowering Women yang menjanjikan keuntungan £24 ribu dengan setoran hanya beberapa ratus pound sterling. Di Afrika Selatan, sebuah geng, mengatasnamakan Bank Sentral Afrika Selatan, menjual klaim harta karun kepala suku Afrika yang konon telah lama hilang. Kalau ingin mendapat bagian, silakan setor uang proses ke rekening mereka.

Menakutkan memang. Negara dengan tingkat pendidikan, kelengkapan regulasi, dan kualitas penegakan hukum sekaliber AS atau Inggris pun tidak kebal terhadap penyakit ini. Di satu sisi, ada saja "pengusaha" yang selalu berinovasi mencari celah hukum untuk membangkitkan Ponzi dari kuburnya dalam bentuk arisan, undian berhadiah, investasi, atau asuransi kesehatan. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan peluang baru, membungkusnya dengan pakaian lain, dan mempercantiknya dengan aksesori model terbaru sampai tak seorang pun menduga reinkarnasi penipuan piramida telah tersaji di depan mata.

Di sisi lain, di luar sana, sangat banyak orang yang ingin cepat kaya dan berani mengambil risiko tinggi untuk itu. Kegilaan sebagian masyarakat kita pada lotere seperti Porkas atau Sumbangan Dana Sosial Berhadiah secara gamblang bercerita, "pengusaha" penipuan piramida memiliki potensi pasar yang sangat besar menunggu digarap.

Sekalipun tragis dan menyesakkan dada, kasus ini tetap membawa karunia. Pemodal mendapat pelajaran pahit bahwa keuntungan berlipat ganda dan risiko tinggi adalah dua sisi mata uang yang sama; pemodal tidak bisa memilih sisi keuntungannya saja. Di samping itu, kita juga disadarkan bahwa pemerintah perlu segera mengatur model bisnis "bagi hasil" ini sebelum korban jatuh lebih banyak lagi.

Pada saat yang sama, kita juga tidak boleh lupa bahwa regulasi saja tidak akan pernah cukup. Penipuan piramida akan selalu hidup, mengusik nafsu ketamakan kita, menunggu saat yang tepat untuk menyergap. Regulasi tentu sangat diperlukan, tapi dalam investasi, tak ada yang bisa menggantikan kehati-hatian pemodal. Pemodal tidak boleh lengah sedetik pun. Kalau tidak, mereka harus membayar mahal, tidak hanya dengan kehilangan tabungan puluhan atau ratusan juta, tapi juga pengalaman tak terlupakan seumur hidup menjadi gadis lugu yang menyerahkan cincinnya pada pencopet buta.*