skenario kiamat bom bali

Koran Tempo 12/11/2002. 11 September 2001. Dihajar dua "rudal" pesawat terbang yang sarat penumpang, menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat (AS) luluh-lantak nyaris rata dengan tanah. Kalau saja tidak meleset, gedung Pentagon di Washington DC juga akan bernasib sama. Selain itu, satu "rudal" lagi nyasar di Pennsylvania.

Mengejutkan, mengerikan, tak terbayangkan. Seperti kiamat.

Sebagian analis dan ekonom waktu itu meramalkan dampak tragedi ini pada ekonomi AS juga akan seperti kiamat. Setelah melambat sepanjang 2001, ekonomi AS dikhawatirkan akan jatuh ke jurang resesi yang dalam. Lebih menakutkan lagi, mimpi buruk di siang bolong ini juga akan memperlambat ekspansi ekonomi dunia. Sebagian analis bahkan yakin resesi ekonomi dunia tidak terhindarkan lagi.

Aneh bin ajaib, skenario kiamat tersebut ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, ekonomi AS pada kuartal IV 2001 dan kuartal I 2002 berturut-turut tumbuh 2,7 dan 5 persen. Kebangkitan ekonomi ini juga sekaligus mengakhiri resesi ekonomi AS pada pertengahan 2001, dan menjadikannya salah satu resesi paling singkat dalam sejarah AS. Karena ekonomi AS adalah motor ekonomi dunia, mukjizat ini juga membangkitkan kembali ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Setelah pengeboman Bali, sebagian analis juga meramalkan skenario kiamat yang hampir sama. Katanya, ekonomi Indonesia 2003 akan sangat melambat, hanya akan tumbuh sekitar 3 persen. Beberapa di antaranya bahkan memperkirakan pemulihan ekonomi akan terhambat beberapa tahun.

Sayangnya, pemerintah mempercayainya, bahkan lebih pesimistis lagi. Pertumbuhan ekonomi 2003 yang semula ditargetkan 5 persen dipangkas 1,5 persen menjadi hanya 3,5 persen. Hanya dengan stimulus tambahan senilai Rp 5,9 triliunlah kemudian pertumbuhan bisa didongkrak menjadi 4 persen.

Padahal, skenario kiamat tersebut terlalu spekulatif dan cenderung dibesar-besarkan. Memang, melihat ratusan korban berjatuhan secara mengerikan terpampang di layar televisi dan reperkusi sosial-politiknya, sulit untuk tidak mengatakan tragedi ini akan sangat mempengaruhi ekonomi. Tapi, kalau dianalisis lebih dalam, dampak pengeboman Bali, seperti dampak jangka pendek serangan teroris 11 September di AS, ternyata relatif terbatas.

Pertama, pengeboman Bali hampir tidak mengurangi aset produktif dan distribusi mesin ekonomi. Apalagi ekonomi Bali kurang 1 persen dari ekonomi Indonesia. Industri pariwisata yang sekitar 3 persen dari ekonomi tentu sangat terpukul, tapi dampak kontraksinya pada ekonomi makro relatif terbatas. Paling pesimistis, angka pertumbuhan ekonomi turun 1 persen. Kalau pemerintah lebih agresif memulihkan citra Bali dan membantu industri pariwisata nasional, mungkin penurunan angka pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 0,3-0,5 persen.

Kedua, sekalipun mengerikan, pengeboman Bali kemungkinan besar tidak akan menurunkan konsumsi swasta seperti yang diasumsikan pemerintah dan beberapa lembaga riset. Sebagian besar konsumsi di Indonesia adalah makanan dan pakaian, sedangkan komponen barang tahan lama tidak signifikan.

Akibatnya, konsumsi swasta tidak terlalu terpengaruh perubahan pendapatan dan harga. Tanpa kejutan yang sangat luar biasa seperti yang terjadi pada 1998 lalu, konsumsi swasta pada 2003 tidak akan turun secara drastis. Paling buruk, konsumsi swasta hanya sedikit melambat.

Apalagi pengeboman Bali terjadi pada saat ekonomi sedang sangat bergairah menyambut bulan puasa dan akhir tahun. Ibaratnya, rumah tangga tidak punya waktu untuk berpikir dua kali mengurangi konsumsinya. Puasa dan Lebaran di depan mata sehingga mereka akan tetap belanja dan belanja.

Indeks Kepercayaan Konsumen Danareksa bulan Oktober yang sedikit meningkat setidaknya tidak membantah kecenderungan ini. Secara umum, tidak ada perubahan mendasar yang mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap ekonomi saat ini dan masa depan.

Jadi, meneruskan ekspansinya sejak akhir 1998, besar kemungkinan konsumsi swasta akan tetap tumbuh 5-7 persen pada 2003 sehingga akan bisa menyangga dampak negatif pengeboman Bali.

Ketiga, ekspor juga potensial menyangga kontraksi sektor pariwisata atau investasi bisnis. Setelah turun sepanjang 2001 akibat perlambatan ekonomi dunia, ekspor Indonesia telah meningkat kembali sejak awal 2002. Turun 9 persen tahun lalu, ekspor nonmigas tahun ini mungkin meningkat 2-3 persen. Sebagian ekspor Bali yang sekitar 1 persen dari ekspor nonmigas Indonesia memang akan turun drastis, terutama penjualan eceran langsung ke turis; tapi secara agregat, ekspor nonmigas akan tetap meningkat.

Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan permintaan produk ekspor Indonesia di pasar dunia. Ekonomi dunia yang pada 2002 diperkirakan tumbuh 2,8 persen akan tumbuh 3,7 persen pada 2003. Negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti AS, Jepang, dan Eropa yang pada 2002 berturut-turut tumbuh 2,4, -0,5, dan 1,1 persen akan tumbuh lebih tinggi pada 2003, yaitu 2,8, 1,1, dan 2,3 persen.

Keempat, perkiraan optimistis ini makin meyakinkan setelah melihat perilaku pasar uang dan modal tiga minggu terakhir. Biasanya sangat reaktif pada kejutan, rupiah setelah pengeboman Bali hanya terdepreasiasi dari Rp 9.000 ke sekitar Rp 9.400 per dolar AS. Karena cadangan devisa yang cukup besar, perkembangan mata uang regional yang menguntungkan, serta pasar yang tampaknya lebih berpengalaman dan dewasa, rupiah telah menguat kembali ke Rp 9.200. Indeks Harga Saham Gabungan yang sempat mencapai rekor terburuk sejak 1998 juga telah menguat kembali awal minggu ini hingga melebihi indeks sebelum pengeboman Bali.

Pengeboman Bali mempengaruhi pasar uang dan pasar modal secara terbatas. Kemungkinan besar, pengaruhnya pada pelaku ekonomi riil--rumah tangga dan perusahaan--akan lebih terbatas lagi.

Kelima, di atas semua itu, seperti yang terjadi di AS akhir tahun lalu, tragedi sekelas pengeboman Bali menjustifikasi kebijakan stimulus pertumbuhan. Pemerintah dan Bank Indonesia bisa menekan dampak negatif pengeboman Bali seminimal mungkin dengan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih ekspansif.

Minggu lalu pemerintah sudah merevisi RAPBN 2003 dengan memberi stimulus tambahan Rp 5,9 triliun, tapi sebetulnya pemerintah masih bisa membuatnya lebih ekspansif lagi. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga bersikap kooperatif dengan mengizinkan defisit anggaran dinaikkan hingga 2 persen untuk menambah kekuatan stimulus fiskal.

Pemerintah juga perlu lebih agresif meminta partisipasi negara maju untuk membiayai proyek infrastruktur yang tertunda karena resesi 1998 untuk menurunkan angka pengangguran. Momentum pemberantasan terorisme juga bisa dimanfaatkan untuk memperbesar bantuan atau hibah dari Bank Dunia, IMF, atau Bank Pembangunan Asia (ADB).

Karena rupiah lebih stabil, Bank Indonesia juga bisa menjalankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif pada potensi pertumbuhan. Dengan terus menurunkan suku bunga, posisi kredit perbankan yang pada kuartal ketiga naik 5,5 persen senilai Rp 20 triliun dibanding kuartal sebelumnya bisa dipacu lebih tinggi lagi.

Singkatnya, dalam jangka pendek, dampak pengeboman Bali relatif terbatas; terlalu reaktif dan spekulatif kalau pemerintah memotong perkiraan pertumbuhan 2003 hingga 1,5 persen. Tentu saja dalam jangka menengah, dampaknya mungkin cukup besar karena peningkatan ketidakpastian, biaya transaksi, dan premium risiko. Tapi, saat ini, terlalu sedikit yang kita ketahui tentang dampak jangka menengah dan panjang yang sebenarnya.

Seperti yang telah sering terjadi, skenario kiamat hampir selalu salah, dan itu juga berlaku bagi ekonomi Indonesia pascapengeboman Bali. Konsumsi swasta hampir mustahil turun seperti diperkirakan oleh pemerintah; sebaliknya, kalau didukung kebijakan yang sepadan, konsumsi swasta dan ekspor kemungkinan besar akan cukup menyangga kontraksi sektor pariwisata dan mengusung pertumbuhan lebih dari 4 persen pada 2003.

Pada saat krusial pemulihan ekonomi seperti sekarang ini, yang paling tidak kita inginkan dari pemerintah adalah sikap pesimistis. Seharusnya, pemerintah berani membuat kebijakan fiskal yang lebih agresif dan bersama-sama Bank Indonesia bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi 2003 lebih tinggi lagi.

Bagi jutaan penganggur, setiap tambahan 1 atau bahkan 0,5 persen angka pertumbuhan akan sangat berarti.*