ekonomi liburan, ekonomi tiduran

Koran Tempo 04/12/2002. Bagaimana cara memacu roda perekonomian? Gampang saja: berhenti bekerja, dan berliburlah.

Mungkin tak masuk di akal. Semua orang juga tahu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, berleha-leha adalah hal terakhir yang pantas kita lakukan. Tapi, kalau planet bumi beraliansi dengan matahari dan Mars pada waktu dan bidang yang tepat, dan dengan jampi-jampi khusus, trik ini bisa berhasil dan bersantai benar-benar bisa membangkitkan ekonomi.

Logikanya begini. Makin panjang waktu luang, makin banyak keluarga yang sempat berjalan-jalan dan berpelesir. Tukang belanja pun makin meramaikan pasar becek dan mal mentereng untuk menghamburkan uang. Industri pariwisata lokal yang sedang seret mendapat pasar tambahan. Sektor retail pun berpesta. Akibatnya, konsumsi swasta ekspansi lebih cepat dan ekonomi pun tumbuh lebih tinggi.

Percaya atau tidak, itu yang mungkin terjadi di Cina pada 2000 lalu. Waktu itu, ekonomi Cina sedang lesu dan stok barang memenuhi gudang di seantero negeri. Untuk menggairahkan ekonomi, terutama industri pariwisata dan retail, pemerintah Cina menetapkan beberapa liburan panjang akhir pekan.

Karena liburan digunakan sebagai motor pertumbuhan, nama kerennya "ekonomi liburan".

Selama liburan panjang akhir pekan awal Mei 2000, misalnya, ekonomi Cina memang seperti mendapat suntikan adrenalin. Menurut sebuah survei, waktu itu sekitar 46 juta orang melakukan perjalanan dan membelanjakan US$ 2,2 miliar, rekor tertinggi dalam sejarah Cina. Penjualan lima department store terbesar di Beijing meningkat 40 persen lebih dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan restoran di Shanghai bahkan dilaporkan meningkat lebih dari 60 persen. Seperti sulap, ekonomi liburan benar-benar bekerja.

Minggu lalu, mungkin terinspirasi kesuksesan Cina, pemerintah Indonesia memformalkan "hari kejepit nasional" yang telah sekian lama menjadi ritus bangsa ini menjadi beberapa liburan panjang akhir pekan. Berbekal surat keputusan bersama tiga menteri, tanggal merah yang jatuh pada Selasa sampai Kamis dipindahkan ke Senin atau Jumat. Hari besar yang terjadi pada Minggu dipindahkan ke Senin. Untuk memperpanjang liburan Idul Fitri dan Natal, pemerintah menetapkan cuti bersama selama empat hari.

Perayaan Idul Fitri dan Natal tahun ini menjadi eksperimen pertama. Dengan tambahan cuti bersama, libur Lebaran menjadi enam hari dan Natal menjadi dua hari.

Sayangnya, posisi planet Indonesia tampaknya tidak seberuntung Cina untuk menyaksikan sulap ekonomi liburan ini bekerja. Apalagi, trik ekonomi liburan sebenarnya tidak sepenuhnya sihir, tapi perlu didukung ketangkasan pemerintah memainkannya. Dan kelihatannya, pemerintah Indonesia tidak cukup siap untuk itu.

Pertama, ekonomi liburan hanya bisa sukses kalau rakyat mengantongi lebih banyak uang. Pemerintah Cina menyadari ini sepenuhnya sehingga, untuk menambah daya beli masyarakat, gaji pegawai negeri dinaikkan.

Pemerintah Indonesia memang menaikkan belanja pegawai tahun depan sekitar 10 persen (secara riil). Akan tetapi, dampaknya pada ekspansi konsumsi swasta mungkin terbatas karena gaji pegawai negeri masih mengejar daya belinya yang hilang waktu resesi pada 1998. Apalagi pegawai negeri di Indonesia hanya sekitar 4 persen dari total angkatan kerja.

Kedua, untuk lebih mendorong rakyat Cina membelanjakan tabungan yang menggunung, pemerintah Cina menaikkan pajak tabungan. Tahun lalu pemerintah Indonesia memang menaikkan cakupan dan tingkat pajak deposito. Tapi, pada 2003 tidak akan ada perubahan pajak tabungan yang mendasar. Akibatnya, sebagian besar orang Indonesia masih akan tetap lebih senang menyimpan uangnya di bank daripada membelanjakannya habis-habisan.

Ketiga, keberhasilan ekonomi liburan di Cina didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif. Pemerintah Cina mungkin sadar bahwa ekonomi liburan bisa bekerja secara efektif kalau ekspektasi pendapatan masyarakat tinggi. Untuk itu, hanya ada satu jalan, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Itu sebabnya, pemerintah Cina menggalakkan pembangunan infrastruktur yang menyerap banyak tenaga kerja dan berefek pengganda ekonomi yang besar. Pada saat yang sama, bank sentral Cina juga membanjiri ekonomi dengan pasok uang yang cukup untuk melumasi perputaran roda ekonomi yang lebih cepat.

Pemerintah Indonesia bersikap sebaliknya. Mungkin pemerintah mengharapkan sebuah surat keputusan bisa menjadi tongkat sihir yang dengan mengucapkan sim salabim akan mempercepat pemulihan sektor pariwisata. Pengeluaran pemerintah pada 2003 memang ditambah sekitar Rp 11 triliun, tapi sebetulnya fiskal masih bisa dibuat lebih ekspansif lagi.

Di sisi lain, sejak akhir tahun lalu, Bank Indonesia justru membatasi ekspansi uang hanya sekitar 9-10 persen per tahun, walaupun ekonomi (secara nominal) potensial meningkat 13-17 persen. Alih-alih menambah pelumas mesin ekonomi sebagai antisipasi akselerasi pertumbuhan, BI justru menguranginya.

Manfaat ekonomi liburan bukan tanpa kontroversi. Sekalipun dalam jangka pendek ekonomi liburan bisa menggairahkan konsumsi swasta, dalam jangka panjang pertumbuhan hanya bisa dicapai dengan kerja keras, bukan dengan santai. Memberi tambahan hari libur pada bangsa yang gemar meliburkan diri sama sekali bukan langkah yang bijaksana.

Penambahan hari libur ini juga bisa mengganggu rencana produksi perusahaan swasta, terutama untuk memenuhi jadwal ekspor. Langkah terburu-buru pemerintah yang memberlakukan ekonomi liburan hanya dalam beberapa minggu juga merusak kepastian bisnis dan mengotori citra investasi di Indonesia yang sudah telanjur buruk muka.

Di samping itu, tanpa waktu persiapan yang cukup, industri pariwisata dan bisnis retail juga tidak akan sempat membangkitkan antusiasme masyarakat untuk melancong dan belanja. Tanpa kegiatan pemanis seperti festival, atraksi seni, perayaan budaya, dan program diskon, ekonomi liburan tidak akan optimal.

Terlepas dari semua itu, pemerintah sudah berkomitmen menjalankan ekonomi liburan. Mumpung masih ada waktu, sekaranglah saatnya pemerintah menggerakkan seluruh senjata yang dimiliki untuk menyukseskannya. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal perlu dibuat lebih ekspansif lagi. Kebijakan moneter juga perlu diperlonggar untuk mengakomodasi potensi pertumbuhan, termasuk akselerasi akibat ekonomi liburan.

Kalau tidak, ekonomi liburan hanya akan berevolusi menjadi ekonomi tiduran. Alih-alih membanjiri daerah tujuan wisata dan meramaikan pusat perbelanjaan, banyak orang mungkin hanya akan tinggal di rumah, selonjoran di sofa, sambil ngemil tahu isi dan menikmati Warkop DKI di layar kaca.