prospek perbankan 2003: die another year?

Koran Tempo 04/12/2002. Prospek perbankan 2003 ibarat alur cerita Cast Away-nya Tom Hanks. Lamban, membosankan, tanpa kejutan berarti.

Setelah Tom terdampar di pulau terpencil, banyak orang bisa menduga bahwa cerita selanjutnya hanya akan seputar Tom dan bola volinya, serta usaha keduanya mempertahankan hidup. Pada akhirnya, Tom akan selamat sekalipun kehidupannya tidak akan pulih seperti sediakala. Tak ada bak-bik-buk, tak ada penjahat yang tertembak, tak ada jagoan yang petantang-petenteng.

Begitu juga dengan perbankan 2003. Melihat statistik perbankan terakhir dan prediksi ekonomi 2003, kemungkinan besar industri perbankan masih seperti berjalan di tempat. Terseok-seok, memang, tapi mungkin tak akan ada jatuh korban.

Suara optimistis bukan tak ada. Gubernur Bank Indonesia, misalnya, berpendapat, kondisi perbankan telah membaik secara signifikan. Standard and Poor's, lembaga pemeringkat dunia, juga telah melihat ufuk kebangkitan perbankan Indonesia. Katanya, outlook perbankan yang sebelumnya negatif telah stabil untuk 2003.

Stabil, atau mungkin sedikit tumbuh. Tapi, tidak lebih dari itu.

Coba lihat beberapa indikator kesehatan perbankan terbaru. Kredit macet dalam kredit perbankan (NPL) memang telah dan akan terus turun, tapi sampai sekarang porsinya masih tetap tinggi. Pada September 2002 NPL masih 11 persen dan hanya mukjizat yang membuatnya bisa turun ke 5 persen pada 2003 seperti ditargetkan BI.

Rasio kecukupan modal (CAR) yang mengindikasikan kemampuan bank untuk menyerap risiko juga terus membaik. Kecuali Bank CIC dan IFI sempat dikarantina di Bank dalam Pengawasan Khusus, perbankan secara umum bisa memenuhi batas minimum 8 persen. Akan tetapi, industri perbankan kemungkinan besar sulit meningkatkan CAR menjadi 12 persen pada 2003 untuk memenuhi Basle Accord II, standar terbaru prinsip kehati-hatian perbankan internasional.

Di sisi lain, bank-bank besar masih terlalu hati-hati untuk menyalurkan kredit sehingga CAR-nya justru masih puluhan persen. Pada September 2002, dari setiap Rp 100 dana yang dihimpun oleh perbankan, hanya sekitar Rp 40-an yang disalurkan kembali sebagai kredit. Memang sudah lebih baik dari rasio penyaluran kredit terhadap dana pada 1999 lalu yang hanya 35 persen, tapi tentu angka ini tidak cukup untuk memulihkan fungsi intermediasi perbankan seperti sediakala dan mendorong ekspansi sektor riil yang lebih tinggi.

Bank juga sudah mulai mencetak laba. Setelah rugi Rp 92 triliun pada 1999, laba perbankan terus meningkat hingga mencapai Rp 13 triliun 2001 lalu. Sayangnya, sebagian besar laba ini diperoleh bukan dari penyaluran kredit ke sektor produktif, tapi dari investasi surat utang seperti obligasi pemerintah atau Sertifikat Bank Indonesia.

Sejalan dengan perbaikan indikator kesehatan perbankan, total aset, penghimpunan dana, dan penyaluran kredit perbankan juga telah meningkat. Dibanding posisi pada 1999, pada akhir kuartal ketiga 2002 ketiganya berturut-turut naik 9, 32, dan 40 persen.

Akan tetapi, secara riil, kenaikan tersebut sebenarnya tidak berarti. Setelah dikoreksi dengan inflasi, pertumbuhan penghimpunan dana, dan penyaluran kredit perbankan berturut-turut hanya tinggal 2 dan 8 persen. Total aset secara riil bahkan turun sekitar 15 persen--angka pertumbuhan yang sama sekali tidak impresif untuk sebuah industri yang baru terpuruk.

Pendek kata, perkembangan industri perbankan beberapa tahun terakhir memang mulai membaik, tapi jangan berharap pada 2003 akan ada lompatan perbaikan yang besar.

Untungnya, alur cerita lamban ini bisa diubah. Sebagai sutradara "Prospek Perbankan 2003", BI dan pemerintah bisa menyulap perkembangan perbankan 2003 lebih mendebarkan seperti Die Another Day-nya Pierce Brosnan. BI bisa lebih tegas mendorong bank untuk merger kalau tidak mampu lagi bertahan hidup sendiri. BI juga bisa mengejar-ngejar, atau kalau perlu menghajar, bankir nakal yang mungkin masih berkeliaran menunggu kesempatan beraksi kembali.

Kalau itu yang terjadi, prospek perbankan 2003 tentu akan sangat menarik dan menggembirakan. Kita mungkin akan melihat sekian bank gelagapan, mati-matian menyelamatkan diri kalau tidak mau ditutup. Beberapa mungkin akan mati, dan sebagian terpaksa merger. Dengan sedikit keberuntungan, bank pemenang akan mulai muncul, industri perbankan akan lebih kompetitif, dan strukturnya akan terus menguat.

Banyak yang bisa dilakukan. Pertama, pemerintah bisa mulai dengan secara bertahap menghapus jaminan menyeluruh (blanket guarantee) dana masyarakat yang dihimpun perbankan. Langkah ini tidak hanya tepat bagi keuangan pemerintah, tapi juga bagus bagi industri perbankan.

Di satu sisi, pemerintah terhindar dari risiko harus menyelamatkan perbankan lagi dari kebangkrutan dengan ratusan triliun rupiah seperti pada 1998 lalu. Di sisi lain, perbankan makin terdorong untuk lebih hati-hati menyalurkan kredit. Pada saat yang sama mereka juga lebih berkompetisi untuk menjaga reputasi dan menjaring dana masyarakat.

Sayangnya, sosialisasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang direncanakan pemerintah untuk menggantikan jaminan menyeluruh tersebut sudah lama tak terdengar. Jangan-jangan rencana penghapusan beberapa pos di luar neraca pada awal Januari 2003 sebagai bagian awal dari pendirian LPS sudah tersimpan kembali ke dalam laci dan mungkin terpaksa ditunda lagi.

Kedua, pemerintah juga perlu membangunkan perbankan dari ketergantungannya pada obligasi pemerintah. Dengan beberapa trik rekayasa keuangan, banyak beban utang pemerintah pada perbankan yang bisa dikurangi. Hasilnya, anggaran pemerintah akan lebih lega. Bonusnya, perbankan dituntut lebih kreatif untuk mencari sumber penerimaan dengan menyalurkan kredit ke sektor riil.

Ketiga, BI tentu perlu mentargetkan CAR dan NPL yang realistis dan sesuai dengan kondisi industri perbankan saat ini, tapi penetapan target harus dilengkapi dengan penalti. Kalau tidak, BI hanya akan seperti macan ompong. Bankir bisa lenggang kangkung melewati 2003 sekalipun CAR dan NPL banknya gagal memenuhi target.

Keempat, lebih dari semua itu, BI perlu mulai melaksanakan cetak biru arsitektur perbankan Indonesia yang telah lama dia janjikan dan menggunakan seluruh instrumen yang dimiliki pemerintah dan BI untuk merealisasikannya.

Tampaknya semua orang saat ini sudah sepakat bahwa bank di Indonesia terlalu banyak sehingga struktur industrinya sangat lemah dan sangat berisiko tinggi. Sekitar 80 persen aset perbankan dikuasai oleh hanya beberapa bank, sedangkan ratusan bank lainnya memperebutkan 20 persen sisanya.

Hanya dengan langkah tegas seperti ini struktur industri perbankan Indonesia bisa diperkuat supaya tidak selalu terancam jatuh ke krisis kedua dari tahun ke tahun. Siapa tahu, kita bisa segera berharap perbankan Indonesia tidak sekadar menunggu ajal untuk die another year, tapi bisa hidup makmur sampai lama, menjadi motor kebangkitan sektor riil dan pemacu pertumbuhan ekonomi Indonesia.*