ah, peduli amat

Koran Tempo 27/01/2003. Sekali lagi mahasiswa berhasil, pemerintah pun bertekuk lutut. Semua senang karena pemotongan subsidi telepon segera ditangguhkan. Berselancar di jagat maya tetap murah seperti biasa. Kita juga bisa kembali bertelepon ria dengan sanak dan kawan. Juga dengan si dara manis. Tanpa takut dompet menipis.

Tapi siapa peduli. Hanya daun telinga pemuda kasmaran yang cukup bebal menelepon berjam-jam. Lagi pula, tak sampai empat dari seratus keluarga di negeri ini yang bisa menikmati kenyamanan bertelepon di rumah. Sisanya, yang 96 lebih itu, kalau mau menelepon, harus sabar antre di telepon umum terdekat. Kalau di kampung mereka ada sambungan telepon.

Yang pasti, sebagian orang di kampung saya, atau mungkin di kampung Anda juga, lebih tidak peduli lagi. Tarif telepon naik berapa pun, tak ada pengaruhnya. PT Telkom nama asing di sana.

Atau sebaiknya mereka peduli. Karena penangguhan pemotongan subsidi telepon, PT Telkom membatalkan pembangunan jaringan telepon sekian ribu satuan sambungan. Mereka mungkin termasuk salah satu di antaranya. Berkat jerih payah tuan muda mahasiswa.

Ah, saya hampir lupa. Pemerintah juga menunda kenaikan tarif listrik dan harga minyak. Kalau daya listrik di rumah Anda lebih dari 450 watt--artinya kalau Anda punya pesawat televisi dan kulkas, Anda termasuk di antaranya--berterima kasihlah kepada mahasiswa. Karena perjuangan mereka tagihan Anda bulan ini tak jadi naik berlipat-lipat.

Saya jadi berpikir, apa artinya semua ini pada nasib orang di kampung saya, sebuah kota kecil mungil di Mandailing Natal, Sumatra Utara. Yang saya tahu, entah sejak kapan listrik di sana byarpet tak kenal waktu. Dan petnya bisa berjam-jam. Kalau siang masih lumayan, tapi malam hari juga. Sering, ketika sedang ada orang bertamu, listrik padam tak bilang-bilang. Untuk berjaga-jaga, orangtua saya sampai harus selalu menyediakan lampu semprong siap nyala di ruang tamu, ruang makan, kamar tidur. Masing-masing lengkap dengan korek api dan senter kecil.

Apakah artinya PLN makin punya dalih untuk menunda perbaikan listrik di kampung saya? Lalu, bagaimana dengan jutaan orang sebangsa lainnya yang tidak seberuntung orangtua saya yang masih bisa menikmati listrik byarpet? Dan katanya Indonesia terancam krisis listrik satu dua tahun lagi.

Saya tidak tahu apakah mereka tahu itu.

Dan, minyak. Kali ini saya benar-benar angkat topi. Bayangkan apa yang terjadi kalau harga minyak benar-benar dinaikkan. Pasti dampaknya akan sangat buruk kalau pemotongan subsidi benar terjadi.

Kalau harga minyak naik, harga lain juga akan naik. Nasi Padang dekat rumah sudah tak menaikkan harganya enam bulan ini. Dengan kenaikan harga minyak seperti yang direncanakan, pastilah harga naik seratus-dua ratus rupiah. Dan ongkos angkutan pasti ikut naik. Kalau tidak, sopir-sopir pasti akan mogok kerja seperti waktu lalu.

Cuma, kata para pakar, akibat kenaikan harga minyak tahun lalu, inflasi naik sekitar 2 persen. Jadi, kalau pemotongan subsidi saat ini tidak ditinjau ulang, dampaknya sekitar itu juga. Tapi, ya peduli amat. Murah, ya tetap murah, harus disyukuri.

Mudah-mudahan saja ini bisa terus berlangsung seterusnya. Kalau kenaikan ini hanya ditunda beberapa bulan, ya sama saja. Orang harga-harga sekarang juga sudah telanjur naik. Nanti kalau harga minyak benar-benar dinaikkan, malah naik lebih tinggi lagi.

Tujuan sudah tercapai. Tapi, ternyata, mahasiswa tidak juga berhenti berorasi, dan berdemonstrasi. Mengapa?

Teriakan mereka sebagian bisa dipahami, sebagian lain makin sulit dimengerti. Hapuskan korupsi, kolusi, dan nepotisme, katanya. Katanya korupsi zaman sekarang tidak beda dengan zaman Pak Harto. Bahkan lebih parah lagi. Tapi, entah apa artinya itu bagi kantong saya. Apa mau mengganti pemerintah semuanya?

Dan katanya pemerintah tak perlu menyubsidi perbankan. Perbankan kan punya orang kaya. Tahun lalu pemerintah menyubsidi perbankan Rp 60-an triliun. Pasti banyak sekali itu. Soalnya, subsidi minyak katanya cuma belasan triliun.

Saya juga tidak tahu apa artinya itu bagi nasib tabungan saya di bank dekat rumah. Tak banyak, memang, cuma satu-dua juta. Tapi lumayanlah, hasil tabungan bersusah payah. Yang pasti, saya tak akan pernah meninggalkan kartu ATM di rumah. Kalau ada apa-apa, siap-siap saja lari ke ATM terdekat.

Dan Megawati katanya juga harus turun. Apa pula ini?

Akibat demonstrasi yang tak kunjung habis, pemerintah tampaknya makin tahu diri. Kontras dengan sebelumnya yang gagah berani mempertahankan posisi. Saya pilih kebijakan tak populer, kata Megawati dulu, membuat saya kagum tak percaya. Berani juga dia rupanya.

Tapi tak lama, runtuh juga semuanya. Saya, dan Anda telah mendapat rezeki penundaan subsidi, seperti sudah saya ceritakan. Sekarang, pengusaha dapat bagian juga. Kalangan industri mendapat potongan harga listrik 2,5 persen. Solar dan minyak tanah didiskon juga. Yang lain mungkin menyusul, mungkin sampai protes mahasiswa dan pengusaha surut.

Ternyata kita masih menginjak planet bumi: populer ternyata tetap jauh lebih penting dari tak populer.

Lalu, bagaimana nasib binatang yang mereka sebut reformasi ekonomi itu?

Ah, peduli amat.*