ekonomi perang

Koran Tempo 20/03/2003. Konon, kepakan sayap kupu-kupu di belantara Amazon bisa meningkatkan temperatur di Florida beberapa derajat. Tidak kurang fantastis, keriuhan marinir Amerika menyiapkan pelontar pesawat di Teluk bisa mengganggu tidur buruh pabrik sepatu di Tangerang, atau nelayan di Bagan Siapiapi.

Yang terakhir bukan sekadar konon, tapi mungkin akan benar-benar terjadi dalam satu-dua hari ini, setelah batas waktu ultimatum 48 jam Presiden Bush pada Saddam Hussein terlewati.

Bumi kita saat ini sudah seperti kampung raksasa, begitu terkaitnya satu sama lain sehingga keributan di sudut kampung dalam sekejap merebak ke seluruh negeri. Perubahan cuaca di hutan Brasil memicu dampak berantai yang turut menentukan apakah hari ini saat yang tepat berjemur di pantai atau tidak. Begitu juga, kalau ibu rumah tangga di Amerika Serikat enggan belanja, tanpa sepenuhnya kita sadari, pundi-pundi kita bisa menipis.

Sulit bagi negara mana pun untuk menghindar dari dampak negatif Perang Teluk jilid dua. Volume perdagangan saat ini begitu besar, sekitar seperempat dari total produksi dunia, cukup besar untuk menularkan resesi atau ekspansi ekonomi dari negara yang satu ke yang lain.

Pasar modal dan investasi dunia saat ini juga sangat luar biasa. Kepemilikan asing pada pasar saham dan obligasi dunia lebih dari US$ 12 triliun, lebih dari seratus kali lipat nilai ekonomi AS tahun ini. Ketika indeks saham bursa New York atau London terjun bebas, tidak hanya pialang yang panik menyelamatkan asetnya, seluruh dunia juga mungkin terkena dampaknya.

Ekonomi Indonesia termasuk salah satu yang paling terpengaruh karena peran ekspor dan investasi asing yang besar dalam ekonomi. Ekspor hampir sepertiga dari ekonomi Indonesia. Investasi asing juga berperan penting bagi pertumbuhan tinggi 6-7 persen sebelum resesi.

Ketidakpastian akibat masalah perlucutan senjata pembunuh massal di Irak telah menghantui ekonomi dunia beberapa kuartal terakhir. Akibatnya, harga minyak seperti naik roller-coaster, sempat mendekati US$ 40 per barel sebelum akhirnya turun ke sekitar US$ 30-an setelah perang semakin dekat saat ini.

Ultimatum Bush hanya menghilangkan satu ketidakpastian, dan menciptakan ketidakpastian lain. Sekarang AS pasti akan menyerang Irak, kecuali kalau Saddam menyingkir. Namun, seberapa lama perang akan berlangsung: mingguan, atau bulanan?

Tak ada yang pasti, tentu saja. Sewaktu-waktu harga minyak bisa melonjak kembali dan, kalau bertahan cukup lama, inflasi di negara pengimpor minyak akan meningkat. Akibatnya, ekspansi ekonomi AS dan Eropa bisa terhambat dan pemulihan ekonomi dunia kembali menjadi tanda tanya.

Keyakinan konsumen di negara maju sedikit banyak juga akan terpengaruh. Setelah gelembung ekonomi AS meletus beberapa tahun lalu, konsumen AS yang enggan belanja bagaikan mimpi buruk bagi ekonomi dunia. Sebagai motor pertumbuhan dunia, menyumbang dua pertiga dari pertumbuhan ekonomi dunia sejak pertengahan dekade lalu, ekonomi AS yang melambat akan menyeret ekonomi dunia bersamanya, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak akibat perang memang seperti rezeki nomplok bagi pemerintah Indonesia. Dalam jangka menengah, kita termasuk yang rugi besar kalau ekonomi dunia terus melambat.

Apalagi perang mungkin akan membuat masalah ekonomi yang harus kita hadapi makin menggunung. Kita masih harus bekerja keras bagaimana kembali menarik hati pemodal asing kembali ke Indonesia. Kalau sentimen anti-Barat kembali meningkat setelah AS menyerang Irak, masalah krusial ini makin berat saja.

Apa yang kita bicarakan sekarang mungkin kelihatannya remeh, "hanya" setengah atau satu persen angka pertumbuhan. Dengan pertumbuhan 3-4 persen dua tahun terakhir, setiap digit pertumbuhan ekonomi sangat berharga, untuk menciptakan lapangan kerja dan menyerap pengangguran, serta untuk memacu ekonomi kembali ke pertumbuhan tinggi seperti sebelum resesi.

Sebelum semuanya kelihatan makin suram, mari kembali ke pertanyaan yang lebih positif: apa yang bisa kita lakukan?

Tak banyak, sayangnya, tapi tetap ada peluru yang tersisa.

Kebijakan fiskal sulit digunakan untuk lebih menstimulasi pertumbuhan, setidaknya tidak tahun ini. Untuk tahun depan, pemerintah tentu bisa mulai menyiapkan anggaran yang sedikit lebih akomodatif pada potensi pertumbuhan.

Dalam jangka pendek, harapan tinggal pada Bank Indonesia.

Ruang bermain bagi Bank Indonesia juga agak sempit. Inflasi tahun ini diperkirakan masih sekitar 10 persen, sedangkan suku bunga SBI sudah kurang dari 12 persen. Sulit bagi Bank Indonesia menurunkan suku bunga lebih rendah lagi dan pada saat yang sama tetap mempertahankan nilai rupiah.

Kabar baiknya, tekanan terhadap rupiah saat ini sudah jauh berkurang, sebagian karena dolar yang terus turun sepanjang tahun lalu. Dipicu defisit perdagangan yang besar, ketidakpastian akibat perang, dan meletusnya gelembung ekonomi AS, secara riil dolar telah melemah belasan persen terhadap mata uang utama dunia. Jadi, Bank Indonesia bisa lebih memfokuskan kebijakan moneter untuk mengakomodasi ekspansi permintaan domestik dan menyangga penurunan permintaan ekspor.

Di samping itu, kalaupun pemerintah menaikkan harga minyak, inflasi mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan. Saat ini ekonomi Indonesia masih kelebihan kapasitas, sedangkan sisi permintaan tidak luar biasa, baik domestik maupun ekspor. Kenaikan harga minyak mungkin terutama akan diserap oleh perusahaan dengan mengurangi keuntungan, bukan dengan menaikkan harga.

Sangat masuk akal kalau kemudian Bank Indonesia menjaga ekspansi pasok uang 14 persen per tahun seperti direncanakan awal tahun ini. Kalau ekonomi menggeliat lebih cepat, tidak ada salahnya ekspansi pasok uang dinaikkan sedikit lebih tinggi lagi.

Sangat tidak bertanggung jawab kalau Bank Indonesia menutup mata dari pertumbuhan ekonomi dan hanya fokus pada inflasi ketika kita menghadapi masa sulit akibat perang seperti sekarang. Target penurunan inflasi tentu penting, tapi sebaiknya bersikaplah lebih pragmatis. Ketika ekonomi memang bisa tumbuh lebih tinggi, jangan dihambat dengan ekspansi pasok uang yang terlalu rendah hanya untuk mencapai target inflasi.

Lihat apa yang dilakukan the Fed, bank sentral AS. Alan Greenspan mungkin sedang mempertimbangkan pemotongan suku bunga yang saat ini 1,25 persen lebih rendah lagi untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi AS akibat perang. Ruang gerak the Fed juga sangat terbatas, tapi setiap peluang mereka coba manfaatkan sebaik-baiknya.

Sementara itu, kita hanya berharap yang terbaik untuk rakyat Irak, dan untuk dunia. Semoga saja perang, kalau akhirnya terjadi, berlangsung cepat dan singkat. Harga minyak pun bisa segera turun, pasar modal dunia semarak, motor ekonomi dunia kembali menggeliat, dan Indonesia pun ikut tumbuh bersamanya.*