dolar versus euro

Koran Tempo 03/04/2003. Tiba-tiba euro jadi begitu menawan. Dolar Amerika yang selama ini diperebutkan seakan-akan kehilangan pamor. Orang pun mulai meminta pemerintah untuk meninggalkan dolar dan beralih ke euro.

Pemicunya? Apalagi kalau bukan perang di Irak. Beberapa pengamat bahkan sampai berspekulasi perang Irak sebenarnya adalah perang mata uang.

Konon, Amerika Serikat khawatir posisi dolar sebagai mata uang internasional makin tergerus karena banyak negara Timur Tengah yang beralih ke euro dalam transaksi perdagangan minyak. Untuk menghentikannya, tidak ada jalan bagi AS kecuali menyerang Irak, sumber minyak terbesar dunia setelah Arab Saudi.

Sekalipun absurd, mungkin banyak yang suka mendengarnya. Setidaknya, beberapa koran nasional masih terus menuliskannya.

Cerita yang sebenarnya tidak sespektakuler itu. Bahkan kita sebenarnya termasuk yang ketinggalan kereta bicara "kehebatan" euro.

Sudah sejak 2001 dolar cenderung melemah terhadap semua mata uang utama dunia. Sejak Februari tahun lalu saja, dolar sudah melemah sekitar 20 persen lebih terhadap euro.

Tentu perang yang berkepanjangan bisa menekan dolar lebih rendah lagi. Namun, penyebab depresiasi dolar terhadap euro bukan hanya perang, tapi juga faktor fundamental.

Cerita ini membawa kita kembali pada 1980-an. Ketika itu banyak ekonom yang sudah mengatakan dolar overvalued. Defisit neraca perdagangan AS yang besar dan terus menggelembung membuat orang makin khawatir. Kalau kemudian kurs dolar bisa bertahan begitu lama terutama karena pemodal seluruh dunia begitu terpikat pada aset AS dan beramai-ramai menanamkan uang mereka di sana.

Bagaimanapun menariknya aset AS, dalam jangka panjang, aliran investasi ke AS akan menyurut juga. Kalau itu terjadi, dolar pasti akan terdepresiasi. Hanya saja waktu itu tidak ada yang tahu, kapan. Baru akhir-akhir ini, dua dekade kemudian, kita menyaksikan dolar benar-benar melemah.

Awalnya, gelembung ekonomi baru di AS meledak pada 2000 lalu. Harga saham teknologi yang jatuh drastis membuat pemodal dunia mulai mempertanyakan prospek investasi di AS. Sekalipun begitu, ekonomi AS terus ekspansi dan hanya resesi singkat pada pertengahan 2001, sebagian karena the Fed, bank sentral AS, memangkas suku bunga secara agresif.

Pukulan bertubi-tubi terus menghantam. Serangan 11 September; skandal akuntansi Enron; dan sekarang, perang di Irak yang mungkin akan berkepanjangan.

Semua ini terlalu berat bagi ekonomi AS. Aliran modal ke AS pun menurun. Akibatnya, defisit perdagangan yang begitu besar, sekitar 4 persen dari ekonomi AS, tidak bisa ditopang lagi. Dolar pun cenderung melemah sejak awal tahun lalu, sampai sekarang.

Ini belum akhir cerita. Percaya atau tidak, depresiasi dolar secara perlahan berdampak baik bagi ekonomi dunia.

Akhir-akhir ini ekonomi dunia terlalu bergantung pada konsumen Amerika. Karena permintaan domestik yang lesu, ekonomi Eropa dan Jepang saat ini dimotori oleh ekspor. Kalau konsumen AS enggan belanja, perdagangan dunia akan kontraksi, Eropa dan Jepang kehilangan motor pertumbuhannya, dan ekonomi dunia akan melambat.

Dolar yang melemah akan membuat ekspor AS lebih kompetitif. Ekspor pun akan menggantikan konsumsi sebagai motor pertumbuhan dan ekonomi AS terhindar dari resesi berkepanjangan. Harga produk impor yang lebih tinggi juga akan membantu AS terhindar dari ancaman deflasi mengingat saat ini suku bunga di AS sudah sangat rendah.

Depresiasi dolar juga baik bagi ekonomi Eropa. Euro yang lebih kuat membuat ancaman inflasi di Eropa lebih kecil sehingga European Central Bank (ECB) lebih bebas memotong suku bunga untuk menstimulasi permintaan domestik. Penguatan euro juga akan lebih memaksa Eropa untuk lebih konsisten melaksanakan reformasi struktural ekonominya.

Mungkin hanya Jepang yang agak kesulitan kalau dolar terus melemah. Ekspor Jepang akan terhambat, sedangkan bank sentral Jepang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menstimulasi permintaan domestik karena suku bunga yang sudah nol persen.

Kalau depresiasi terbatas dolar menjadi terapi yang bagus bagi ekonomi dunia, sebaliknya kejatuhan dolar secara drastis akan berdampak sangat buruk. Kalau dolar jatuh drastis dan ekonomi AS resesi, ekonomi dunia akan terseret bersamanya, termasuk Indonesia. Karena permintaan domestik Eropa yang sedang lesu, ECB tidak akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Eropa cukup tinggi untuk menutupi kontraksi ekonomi AS yang terlalu besar.

Bank sentral negara-negara Asia juga akan menjadi korban kejatuhan dolar karena hampir semua cadangan devisa mereka dalam dolar. Bayangkan berapa kerugian yang diderita Jepang dan Cina yang berturut-turut mempunyai cadangan devisa US$ 400 miliar dan US$ 250 miliar kalau dolar yang sudah melemah 20 persen terus turun. Begitu juga dengan Bank Indonesia. Dengan depresiasi dolar 20 persen saja, misalnya, seakan-akan membuat BI kehilangan seperlima dari cadangan devisa yang US$ 30-an miliar itu.

Sekalipun dolar melemah, bank sentral di Asia tidak perlu tergesa-gesa beralih ke euro. Pertama, transaksi mata uang dunia saat ini masih sangat didominasi oleh dolar. Delapan puluh persen perdagangan valuta asing melibatkan dolar. Sekitar setengah ekspor dunia dinyatakan dalam dolar. Dua pertiga cadangan devisa juga dalam dolar.

Kedua, euro masih perlu membuktikan diri sebagai mata uang internasional yang stabil. Dalam usianya yang belia, euro sama sekali belum bisa dikatakan memenuhi kriteria ini. Bahkan euro sudah seperti naik roller coaster sejak diluncurkan.

Ketiga, euro tidak hanya harus stabil, tapi juga harus kuat. Setahun terakhir euro memang terus menguat, tapi kita masih perlu melihat ke mana euro pergi: terus menguat, atau jangan-jangan malah melemah kembali.

Keempat, pasar euro juga harus luas dan lancar sehingga mudah bagi bank sentral untuk mendiversifikasi dan melikuidasi aset euronya. Peran euro dalam pasar finansial dunia saat ini memang terus meningkat, tapi belum sebanding dengan dolar.

Kelima, kunci kesuksesan dolar adalah kepercayaan dunia yang sangat besar pada the Fed. ECB masih harus membangun reputasi sebagai penjaga euro yang tidak kalah hebat dibanding gubernur bank sentral AS.

Keenam, sebagian besar ekonom tetap menilai fundamental ekonomi AS cukup kuat sehingga kemungkinan krisis dolar relatif kecil. Apalagi ekonomi Eropa sendiri bukan tanpa masalah. Misalnya, pasar tenaga kerja di Eropa termasuk yang paling kaku di dunia. Permintaan domestik di Eropa juga lemah, sedangkan ECB tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya terikat menjaga inflasi.

Tentu bukan berarti euro diabaikan begitu saja. Eksportir maupun importir Indonesia bisa saja menggunakan euro, tergantung pada kebutuhan dan peluang bisnis. Langkah Pertamina yang mempertimbangkan peralihan ke euro juga mungkin keputusan bisnis yang tepat dan praktis.

BI dan pemerintah sebaiknya sangat hati-hati sebelum memutuskan menukar asetnya dari dolar ke euro. Tujuan utama manajemen cadangan devisa adalah mempertahankan nilainya dengan risiko sekecil mungkin dan memfasilitasi perdagangan internasional. Kalau impor dan pembayaran utang kita sebagian besar masih dalam dolar, misalnya, sebaiknya BI tetap memegang dolar dalam jumlah yang sepadan.

Dalam dunia ramal-meramal kurs, mungkin hanya satu ramalan yang pasti: prediksi kurs lebih sering salah daripada benar. Sangat berbahaya kalau BI dan pemerintah kemudian tergoda untuk ikut-ikutan berspekulasi hanya karena euro cenderung menguat akhir-akhir ini.*