pertanyaan sejuta dolar

Warta Bisnis 11/I. Berapa kurs rupiah nanti sore? Berapa akhir bulan ini?

Saya tidak tahu. Kalau saya tahu, saya tidak akan buang waktu menulis kolom ini. Alih-alih, saya akan bermain mata uang. Dalam sekejap saya akan jadi milinuer dan saya pun bisa ongkang-ongkang kaki, berfoya-foya sampai tua.

Kalau mau jujur, tak ada yang tahu. Tidak perusahaan forecasting paling mentereng, tidak juga ekonom paling jempolan.

Sebagai peramal, ekonom mungkin tidak lebih baik dari peramal cuaca. Jakarta hari ini cerah tak berawan, kata Badan Meteorologi dan Geofisika. Tahu-tahu hujan deras mengguyur, seharian. Ekonom juga. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, sampai tingkat pengangguran mereka ramal setiap November, tapi seringkali mereka gagal. Yang paling parah dalam urusan ramal-meramal, ya kurs ini.

Bukan berarti ekonom tidak paham bagaimana kurs jumpalitan. Dalam jangka pendek, harian atau bulanan, mereka memang belum menemukan teori atau teknik peramalan yang andal. Tapi dalam jangka panjang, atau jangka sangat panjang, ekonom punya cerita tentang perilaku kurs yang cukup meyakinkan.

Ini membawa kita pada konsep mata uang yang undervalued atau overvalued. Rupiah undervalued kalau dolar hanya bisa dibeli pada harga yang lebih mahal dari yang sebenarnya; rupiah overvalued kalau dolar terlalu murah.

Setiap yang terlalu tinggi secara alami akan turun. Begitu juga dengan rupiah. Kalau rupiah saat ini undervalued, suatu saat rupiah pasti menguat. Sebaliknya, kalau rupiah overvalued, rupiah pasti akan melemah.

Sementara ini masuk akal. Tapi bagaimana kita tahu rupiah undervalued atau overvalued?

Ekonom menemukan beragam teori tentang ini, mulai dari yang paling sederhana, sampai ke yang mengingat namanya saja bikin pusing karena asing dan panjangnya.

Yang paling gampang mungkin cerita kesamaan daya beli (absolute purchasing power parity theory). Menurut teori ini, seribu rupiah bisa dipakai untuk membeli barang yang sama di seluruh dunia. Kalau di Jakarta Anda bisa membeli sebuah pensil dengan selembar ribuan, setelah dikonversikan ke mata uang asing, Anda juga bisa membeli sebuah pensil di Barcelona atau di Lima.

Kalau selembar ribuan Anda bisa membeli dua pensil di New York, berarti rupiah overvalued terhadap dolar. Sebaliknya kalau di Tokyo Anda perlu membayar sebuah pensil dengan dua lembar ribuan, rupiah undervalued terhadap yen.

Majalah the Economists telah menggunakan teori ini sejak belasan tahun lalu. Bukan harga pensil yang mereka lihat, tapi harga BigMac-nya McDonald. Dengan bagga mereka menyebutnya burgernomics, dan indeksnya disebut BigMac index.

April lalu harga BigMac di Indonesia Rp 16.100 atau setara dengan $1,84 pada kurs saat itu. Karena harga BigMac di Amerika Serikat $2,71, menurut indeks ini rupiah undervalued sekitar 30 persen. Jadi kurs rupiah yang waktu itu Rp 8.740 seharusnya bernilai Rp 6.000 per US$.

Tentu ini hanya perkiraan kasar karena akurasinya sangat tergantung pada kebenaran laporan keuangan McDonald. Disamping itu banyak komponen biaya BigMac yang tidak diperdagangkan seperti biaya sewa gedung atau gaji buruh. Jadi, kurs mata uang negara miskin menurut BigMac index akan cenderung undervalued.

Sekali pun begitu, prediksi burger ini cukup bagus. Setidaknya prediksinya tidak jauh beda dengan prediksi banyak ekonom atau perusahaan forecasting.

Tidak puas dengan ”cerita kesamaan daya beli” yang mengasumsikan seribu rupiah berdaya beli sama di Jakarta dan di Nairobi, mari kita lihat versi yang lebih masuk akal, yaitu cerita kesamaan daya beli relatif (relative purchasing power parity theory).

Menurut teori ini, perubahan kurs selama suatu masa proporsional dengan selisih perubahan inflasi. Misalnya, kalau harga-harga di Indonesia naik 11 persen tahun ini sementara di AS inflasi hanya 1 persen, rupiah akan cenderung melemah 10 persen.

Pada 1998 inflasi di Indonesia sekitar 70 persen, setahun kemudian jatuh drastis ke bawah 1 persen sebelum kemudian kembali ke tingkat historis 10-11 persen per tahun. Sebagai hitungan kasar, katakanlah harga-harga dalam lima setengah tahun terakhir naik 70 tambah 45 persen, atau 115 persen. Karena inflasi di AS sangat rendah, asumsikan saja tak ada kenaikan harga-harga di sana.

Berarti kurs rupiah yang waktu itu sekitar Rp 2.700 per US$ saat ini seharusnya sekitar Rp 5.800 per US$.

Rupiah sangat undervalued. Yang agak mengejutkan, prediksi “cerita kesamaan daya beli relative” ini tidak jauh beda dengan prediksi BigMac index.

Tapi jangan gembira dulu karena ada satu pertanyaan krusial yang harus dijawab sebelum mengambil kesimpulan akhir: Apakah kurs rupiah pada 1997 overvalued atau undervalued?

Sayangnya, literatur tentang ini tidak memberikan jawaban yang meyakinkan. Sebagian mengatakan pada waktu itu rupiah undervalued, sebagian lagi overvalued. Padahal riset tersebut sudah menggunakan teori rumit dan canggih yang sulit kita pahami. Sebut saja purchasing power parity test menggunakan Johansen and Horvath-Watson cointegration test procedures, atau panel data cointegration dengan mempertimbangkan productivity changes dalam kerangka Balassa dan Samuelson. Atau sederet teknik aneh-aneh lainnya.

Amannya, sekalipun kemungkinannya kecil, katakan saja rupiah waktu itu overvalued dan nilai sebenarnya Rp 3.500 per US$. Dengan perbedaan inflasi 115 persen antara Indonesia dan AS selama perioda ini berarti kurs rupiah saat ini seharusnya sekitar Rp 7.500 per US$.

Dengan asumsi yang begitu longgar pun rupiah saat itu masih undervalued.

Masih belum puas? Mari kita lihat satu teori lagi, cerita kesamaan untung (uncovered interest parity).

Menurut teori ini, aset Indonesia seharusnya memberi tingkat keuntungan yang sama dengan aset AS. Kalau tidak, berarti ada ketidaksesuaian nilai mata uang dengan yang sebenarnya.

Saat ini suku bunga nominal obligasi pemerintah Indonesia sekitar 11 persen sementara suku bunga di AS sangat rendah, sekitar 1 persen. Perbedaan suku bunga nominalnya memang sangat tinggi, tapi perbedaan inflasi di kedua negara juga. Inflasi di AS sangat rendah, bahkan the Fed sedang berjaga-jaga terhadap ancaman deflasi. Inflasi di Indonesia biasanya 10-11 persen per tahun. Akhir-akhir ini inflasi cenderung turun ke 7-8 persen, tapi ekspektasi inflasi jangka panjang mungkin masih sekitar 9-10 persen. Dengan demikian, suku bunga riil Indonesia sekitar 1-2 persen sementara suku bunga riil aset AS sekitar 1 persen.

Melihat resiko aset Indonesia yang jauh lebih besar dibanding aset AS, karena suku bunga riil tidak jauh berbeda, kemungkinan besar pemodal melihat rupiah akan cenderung menguat. Dengan demikian, nilai kurs rupiah saat ini undervalued.

Jadi, sekalipun hanya dengan coret-coretan di belakang amplop, kita sampai pada kesimpulan yang sama dengan riset canggih banyak ekonom atau model ekonometrik perusahaan forecasting: rupiah undervalued dan nilai sebenarnya sekitar Rp 6.000-7.500 per US$.

Tapi ini sebenarnya baru setengah dari cerita. Kita tahu rupiah pasti akan menguat dalam jangka panjang. Pertanyaan krusialnya sekarang: berapa panjang jangka panjang itu? Setahun, lima tahun, atau jangan-jangan belasan tahun?

Sayangnya, semuanya mungkin. Rupiah bisa saja terus menguat ke Rp 7.500 per US$ akhir bulan ini, tapi boleh jadi kurs bertahan pada Rp 8.200 sampai lima tahun mendatang. Atau jangan-jangan rupiah gonjang-ganjing lagi tahun depan karena demam politik menjelang pemilum sebelum secara perlahan mendekati nilai yang sebenarnya dalam satu dekade.

Cara rupiah kembali ke nilai sebenarnya juga tidak mudah diprediksi. Nilai nominal rupiah bisa menguat seperti yang terjadi beberapa minggu terakhir, dari Rp 8.600 hingga pernah ke Rp 8.100 per US$. Sebaliknya, rupiah bisa melemah beberapa ratus poin setiap tahun selama satu dekade mendatang sementara harga-harga naik lebih tinggi, katakanlah 8-10 persen per tahun. Secara perlahan, inflasi menggerogoti nilai rupiah sehingga sekalipun secara nominal rupiah melemah, secara riil rupiah sebenarnya menguat. Pada akhirnya rupiah kembali ke nilai sebenarnya, misalnya, Rp 10.000 per US$ pada 2010 nanti.*