obsesi antiinflasi

Koran Tempo 24/07/2003. Mendengar komentar pejabat Bank Indonesia dengan teliti, orang mungkin bingung: harus memberengut atau bersorak gembira.

Di satu sisi, pengusaha, ekonom, dan politikus bertepuk tangan meriah karena Bank Indonesia begitu bersemangat menurunkan suku bunga. Berkat penurunan inflasi, suku bunga sertifikat Bank Indonesia turun drastis. Mestinya, suku bunga kredit juga.

Maunya begitu. Sayangnya, dengan alasan ini dan itu, industri perbankan enggan mengikuti.

Untungnya, Bank Indonesia tak terima begitu saja. Dengan segala macam cara Bank Indonesia terus mendorong perbankan menurunkan suku bunga kredit. Tak hanya mengumpulkan bankir dan "menanyakan" mengapa mereka bersikap menunggu, tapi juga melonggarkan aturan perbankan, termasuk bergandeng tangan dengan pemerintah mendorong bank besar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memelopori penurunan suku bunga kredit.

Ini semua dilakukan Bank Indonesia untuk meningkatkan penyaluran kredit dan menggairahkan sektor riil kembali supaya ekonomi tumbuh lebih tinggi.

Kalau Anda sedang menganggur, atau punya saudara pengangguran, ini sangat mengharukan. Setelah sekian lama berkacamata kuda, hanya fokus menjaga kurs rupiah dan inflasi, Bank Indonesia melirik Anda juga. Bank Indonesia akhirnya merasa berkepentingan mendorong ekonomi tumbuh lebih tinggi supaya Anda segera bekerja.

Sekali lagi, berkat penurunan ekspektasi inflasi.

Tapi tunggu dulu. Ini belum akhir cerita. Di sisi lain, sesekali kita juga masih mendengar Bank Indonesia yang paranoid terobsesi antiinflasi, yang ingin segera menurunkan inflasi secara drastis dari tingkat historis belasan ke sekitar 6 persen.

Misalnya, dengar pernyataan Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono pekan lalu. Katanya, "Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2006 diperkirakan bisa 5,0-5,5 persen." Tapi dengan satu syarat: "inflasi bisa ditekan ke kisaran 6 persen".

Maksudnya, ini tentu kabar gembira. Setelah tumbuh hanya 3-4 persen selama beberapa tahun terakhir, ekspansi ekonomi 5 persen lebih adalah anugerah yang sangat kita tunggu-tunggu.

Tapi, dipikir-pikir, apakah kita boleh berpuas diri dengan pertumbuhan 5 persen? Pantaskah Bank Indonesia mengharapkan ekonomi tumbuh hanya 5 persen pada 2006 dan membiarkannya tumbuh hanya 3 atau 4 persen selama tiga tahun mendatang? Apakah konsekuensinya pada tingkat pengangguran bisa kita tolerir?

Lebih runyam lagi, katanya, itu pun masih kalau target BI 6 persen tercapai.

Satu hal, inflasi rendah bukan syarat mutlak pertumbuhan tinggi. Ekonomi bisa tumbuh pada inflasi belasan persen, tapi bisa juga mungkin diam tak bergerak pada harga-harga yang praktis tak berubah. Contohnya tak usah jauh-jauh. Sebelum resesi pada 1998, Indonesia tumbuh 6-7 persen sekalipun inflasi belasan persen. Sebaliknya, ekonomi Jepang diam di tempat pada inflasi sangat rendah.

Kedua, sulit memahami penurunan inflasi akan mendorong pertumbuhan. Sebaliknya, kalau Bank Indonesia makin tajam dan makin cepat menurunkan inflasi, makin besar risiko ekspansi ekonomi akan terhambat sehingga pertumbuhan ekonomi tetap rendah.

Saya duga, maksud Hartadi bukan inflasi 6 persen mutlak perlu supaya ekonomi tumbuh 5 persen, tapi Bank Indonesia hanya akan betul-betul melonggarkan kondisi moneter kalau target inflasi 6 persen pada 2006 tercapai.

Hartadi mengakui, pertumbuhan 5-5,5 persen tersebut belum optimal untuk menggerakkan ekonomi, tapi "itu adalah skenario normal yang bisa kita capai tanpa membahayakan inflasi maupun nilai tukar".

Anda lihat obsesi antiinflasi itu? Secara tersirat, katanya, ekonomi sebenarnya bisa tumbuh lebih tinggi, tapi inflasi juga mungkin lebih dari 6 persen dan Bank Indonesia tak menginginkannya begitu.

Sekarang, ini bukan hanya runyam, tapi bencana. Ketika ekonomi hanya tumbuh 3-4 persen dan pengangguran makin menumpuk, bank sentral masih ingin bermewah-mewah menginginkan inflasi sangat rendah.

Lebih membingungkan lagi, Hartadi sepakat "penurunan inflasi harus secara bertahap karena kebijakan moneter yang terlampau ketat bisa berdampak buruk bagi pemulihan ekonomi". Di samping itu, katanya, "target yang ditetapkan BI akan lebih realistis". Uang primer juga akan dikendalikan "agar sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian serta konsisten dengan inflasi".

Perhatikan kata kuncinya: penurunan inflasi harus bertahap, target BI lebih realistis, dan uang primer konsisten dengan kebutuhan ekonomi.

Ini semua barang bagus. Di halaman pendapat ini saya telah menuliskannya, entah sudah beberapa kali.

Sayangnya, penurunan inflasi yang bertahap dan realistis, menurut Hartadi, bukan penurunan ke 6-7 persen dalam jangka panjang 5-10 tahun seperti sering saya usulkan kalau kita ingin pertumbuhan tinggi segera kembali, tapi ke 6 persen pada 2006. Bahkan beberapa pejabat Bank Indonesia lain secara terbuka menginginkan inflasi segera turun ke tingkat rata-rata dunia yang sekitar 3 persen.

Yang tentu saja bagus sekali bagi ekonomi Indonesia. Masalahnya adalah karena ada trade-off antara inflasi dan tingkat pengangguran, mampukah kita membayar penurunan inflasi sedrastis itu dengan pertumbuhan yang lebih rendah dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi?

Ini mengapa sejak awal saya katakan, kalau Bank Indonesia didengar lebih teliti, orang bisa bingung apa maksud sebenarnya. Di satu sisi, Bank Indonesia begitu gegap-gempita menurunkan suku bunga kredit, mestinya untuk mendorong penyaluran kredit dan meningkatkan pertumbuhan. Di sisi lain, kita juga mendengar cerita menakutkan Bank Indonesia tentang inflasi, yang penurunannya menjadi syarat mutlak ekonomi boleh tumbuh tinggi kembali.

Semua ini bermuara pada satu hal: barangkali BI-nya Syahril Sabirin dan Burhanuddin tak banyak berbeda, sama-sama begitu terobsesi antiinflasi dan tak ragu-ragu mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja untuk menurunkan inflasi.

Kebetulan saja sekarang inflasi rendah yang membuat Bank Indonesia tak terbeban menurunkan suku bunga. Berkat ekonomi dunia sedang hilang keseimbangan, akibat penurunan inflasi di seantero dunia, ancaman deflasi di Amerika Serikat dan Jerman, dan depresiasi dolar.

Entah apa yang terjadi kalau dunia menemukan kembali keseimbangan barunya, dan ekspektasi inflasi kembali ke sekitar 10 persen. Apalagi ekspektasi inflasi rendah saat ini mungkin hanya untuk jangka pendek, sedangkan ekspektasi inflasi jangka panjang masih tetap tinggi.

Kalau begitu, akankah lagu lama pengetatan moneter Bank Indonesia kembali dimainkan? Siap-siap saja.*