berkaca pada neraca pembayaran

Koran Tempo 04/09/2003. Di tengah kekeringan, bom, serta ribut-ribut Sukhoi dan Papua, kabar baiknya adalah kabar gembira terus mengalir dari kantor statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS).

Pertengahan Agustus BPS mengumumkan ekonomi Indonesia semester pertama 2003 tumbuh 3,62 persen. Pada Selasa lalu giliran inflasi dan ekspor-impor. Inflasi Agustus 0,84 persen yang membuat inflasi sejak Januari hanya 2,11 persen. Ekspor pada Juli US$ 5,25 miliar; ekspor selama tahun kalender tumbuh hampir 10 persen. Impor juga cukup besar, US$ 2,54 miliar, dengan kecenderungan meningkat dan pertumbuhan tahun kalender hampir 12 persen.

Semuanya tampak bagus dan mulus, tapi apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia? Mari kita lihat konsekuensinya pada neraca pembayaran, catatan aliran uang keluar-masuk Indonesia, yang menjadi salah satu isu penting dalam Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (RAPBN) 2004.

Kabar tentang inflasi sangat menggembirakan. Bukan karena inflasi rendah krusial bagi pertumbuhan, tapi karena inflasi rendah mengobati paranoid Bank Indonesia yang sangat terobsesi menurunkan inflasi. Tekanan pada kurs rupiah tentu juga akan berkurang. Tangan BI pun kemudian akan lebih bebas mendorong industri perbankan menurunkan suku bunga dan meningkatkan penyaluran kredit.

Inflasi rendah dan rupiah yang lebih stabil juga membuat cadangan devisa tersimpan aman, hanya digunakan seperlunya untuk mengurangi volatilitas kurs yang berlebihan. Ini terutama sangat penting menghadapi ketidakpastian politik dan keamanan menjelang pesta demokrasi tahun depan.

Pertumbuhan 3,62 persen memang tak impresif, tak cukup mengurangi angka pengangguran yang begitu tinggi. Tapi ini memberi harapan target pertumbuhan 4 persen tahun ini dan 5 persen tahun depan akan tercapai.

Pertumbuhan ekonomi terkait erat dengan ekspor dan impor. Kalau ekonomi Amerika Serikat segera bangkit dan kemudian membawa ekonomi dunia tumbuh bersamanya, ekspor mungkin akan menjadi motor pertumbuhan yang sangat penting.

Peningkatan ekspor secara otomatis akan meningkatkan impor, antara lain karena impor kita sebagian besar adalah bahan baku. Kalau kemudian investasi juga mulai bangkit, impor barang modal juga akan naik. Menurut pemerintah dalam RAPBN 2004, impor tahun depan bahkan sudah tumbuh lebih tinggi dibanding ekspor sehingga surplus perdagangan cenderung turun.

Mungkin memang itulah yang akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia dan pemulihan ekonomi domestik, ekspor terus meningkat. Pertumbuhan ekspor akan diiringi pertumbuhan impor yang lebih tinggi, untuk memenuhi bahan baku produk ekspor maupun untuk memasok konsumsi yang tumbuh tinggi dan investasi domestik yang mulai menggeliat.

Akibatnya, surplus perdagangan akan terus turun menuju keseimbangan, mungkin bahkan kembali masuk daerah defisit.

Jadi, sisi barang dan jasa dalam neraca pembayaran, transaksi berjalan, cukup sehat. Penurunan surplus perdagangan memang membuat kita tidak bisa lagi mengandalkan perdagangan untuk menumpuk devisa, tapi perkembangan seperti ini mungkin tak bisa dihindarkan. Impor yang tumbuh tinggi justru mengindikasikan ekonomi yang kembali menggeliat cepat.

Yang agak mengkhawatirkan adalah sisi modal dalam neraca pembayaran, transaksi modal. Satu hal, sebagai konsekuensi penghentian program Dana Moneter Internasional (IMF) dan keputusan memilih post-program monitoring, beban utang luar negeri pemerintah Indonesia meningkat tajam. Pada 2004 saja pemerintah harus membayar Rp 45 triliun, jauh lebih tinggi dibanding kewajiban tahun ini yang Rp 17 triliun; untuk membayar beban utang yang tidak bisa dijadwal ulang lagi dalam skema Paris Club dan untuk pengembalian utang ke IMF. Beban utang sebesar ini tentu akan menekan pasar valuta asing beberapa tahun mendatang.

Tambahan lagi, BI memperkirakan defisit aliran investasi asing neto yang pada 2003 US$ 1 miliar meningkat tiga kali lipat lebih menjadi US$ 3,7 miliar pada 2004.

Kelihatannya menakutkan: aliran modal keluar begitu besar pada saat ekonomi Indonesia sangat membutuhkan modal asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tapi aliran modal keluar ini bisa jadi pertanda kinerja perusahaan asing di Indonesia sudah membaik dan pemulihan ekonomi terus berjalan. Perusahaan asing di Indonesia telah mampu membayar utangnya kembali setelah lama tertunda sejak krisis finansial pada 1998 lalu.

Singkatnya, wajah kita di layar kaca neraca pembayaran bukan si buruk muka, tapi juga bukan si cantik rupawan. Transaksi berjalan cukup sehat, sayangnya transaksi modal agak mengkhawatirkan.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengatasi penurunan surplus perdagangan dan peningkatan defisit neraca modal.

Kuncinya: tingkatkan investasi dan perbaiki profil utang pemerintah. Aliran modal asing--baik portofolio maupun investasi asing langsung--tak hanya menambah pasok valuta asing, tapi juga memperkuat daya dorong pertumbuhan ekonomi. Perbaikan profil utang pemerintah di sisi lain mengurangi beban bunga dan pokok utang dalam beberapa tahun mendatang.

Tak ada yang baru di sini: perbaiki iklim investasi, kurangi tumpang tindih peraturan, tingkatkan keamanan dan stabilitas politik, dan seterusnya. Semua orang sudah menyanyikan lagu ini sejak lima tahun lalu sampai Anda mungkin bosan mendengarnya. Seakan-akan ekonom dan komentator sudah kehabisan topik pembicaraan.

Setidaknya wajah kita di neraca pembayaran ini makin menggarisbawahi keharusan pemerintah untuk terus bersolek mematut diri sehingga Indonesia bisa kembali menjadi incaran pemodal asing, neraca pembayaran terselamatkan, dan ekonomi Indonesia segera lolos dari cengkeraman pertumbuhan rendah beberapa tahun terakhir ini.*