Lagu lama di akhir tahun

Koran Tempo 16/10/2003. Tak terasa Oktober sudah, saatnya kita mendengar prediksi ekonomi tahun depan suguhan para ekonom.

Lagu lama yang setiap akhir tahun dinyanyikan ulang: ekonomi belum pulih, hanya dipacu konsumsi sementara investasi jalan di tempat. Pertumbuhan rendah, mungkin hanya 4-5 persen. Pengangguran pun terus bertambah.

Yang menarik, kali ini dengan aransemen baru.

Nada suram pesimistis yang mewarnai prediksi akhir tahun sejak resesi 1998 tak terdengar lagi. Setidaknya tidak senyaring dulu.

Mungkin para ekonom mulai melihat cahaya di ujung lorong krisis. Ekonomi memang masih berjalan pelan, belum akan tumbuh 6-7 persen seperti dulu, tapi pemulihan ekonomi setidaknya sudah tepat arah.

Rasanya belum lama kita mendengar kor "pertumbuhan yang dipacu konsumsi (consumption led-growth) tidak berkelanjutan". Versi ekstremnya menakutkan, kalau investasi tak segera bangkit, Indonesia bisa masuk resesi kedua. Tahun lalu sebagian ekonom bahkan menyalakan tanda bahaya: motor konsumsi ini pun mulai kehabisan tenaga.

Waktu terus berlalu, kuartal demi kuartal, tahun demi tahun, dan konsumsi tetap tegar, tumbuh sekitar 5 persen per tahun. Kalau kita beruntung seperti pada 2000, ekonomi dunia melaju cepat dan ekonomi Indonesia tumbuh hampir 5 persen. Sebaliknya kalau ekonomi dunia melambat seperti tiga tahun terakhir, ekonomi Indonesia sekadar beringsut-ingsut, tumbuh hanya 3-4 persen per tahun.

Ini ketika pembentukan modal tetap bruto praktis masih jalan di tempat.

Kehebatan konsumsi memacu pertumbuhan sebenarnya tak mengherankan. Secara alami, ekonomi yang baru bangkit dari resesi biasanya didorong oleh ekspansi konsumsi. Investasi menyusul belakangan, ketika aktivitas ekonomi giat kembali dan roda produksi dipacu mendekati kapasitas penuh.

Konsumsi juga menjadi motor utama pemulihan ekonomi di negara yang terkena krisis lainnya seperti Thailand dan Malaysia. Bedanya, kedua negara tetangga ini bangkit lebih dulu ketika ekonomi dunia segar bugar dan sudah mulai mendapat suntikan investasi. Ekonomi Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir juga terselamatkan oleh konsumsi, sehingga resesi pada 2001 hanya berlangsung singkat dan ekonomi AS segera tumbuh kembali.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, peran konsumsi lebih krusial lagi karena 70 persen dari ekonomi adalah konsumsi. Konsumsi setidaknya bisa menjadi penyangga pertumbuhan kalau kinerja investasi dan ekspor-impor memburuk.

Kebutuhan pokok pangan dan sandang yang mendominasi konsumsi juga membuat konsumsi lebih tahan banting sebagai motor pertumbuhan. Ekonomi boleh morat-marit, tapi makan wajib hukumnya. Kecuali konsumen tiba-tiba pesimis sekali pada prospek ekonomi, pertumbuhan konsumsi tetap bisa diandalkan.

Singkatnya, ekonomi riil selama beberapa tahun terakhir sebenarnya tak banyak berubah. Prediksi ekonomi saat ini terdengar lebih merdu sebagian karena komentator tampaknya mulai berdamai dengan konsumsi dan mengapresiasi kontribusinya. Pertumbuhan yang dipacu konsumsi ternyata tak buruk, justru sangat bagus bagi ekonomi yang baru bangkit dari resesi.

Tentu perkembangan impresif sisi moneter dari ekonomi juga membuat sebagian komentator berubah lebih optimistis. Inflasi turun ke 6 persen, setidaknya untuk sementara ketika dolar sedang melemah. Rupiah juga terus menguat. Sekalipun program ekonomi Dana Moneter Internasional (IMF) akan dihentikan, peringkat utang pemerintah juga membaik.

Mungkin titik lemah ekonomi yang paling gampang diserang sekarang adalah investasi. Katanya, tanpa investasi, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5 persen per tahun. Pertumbuhan 6-7 persen yang sangat diperlukan untuk menyerap tambahan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran tak mungkin dicapai.

Pendapat yang benar sekali, tapi masih mengandung nada sumbang.

Mendengar komentar ekonomi di media massa, investasi biasanya diidentikkan dengan pembangunan pabrik, ekspansi usaha, dan pembelian mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi. Nama lainnya, investasi bisnis. Lebih jauh, investasi bisnis ini disamakan dengan penanaman modal asing karena sebagian besar berasal dari luar negeri.

Definisi ini akurat untuk negara maju yang investasinya memang didominasi oleh investasi bisnis. Di AS, misalnya, investasi bisnis mencapai 70 persen dari total investasi.

Namun, untuk ekonomi Indonesia, definisi ini sama sekali tidak tepat. Sebagian besar investasi di Indonesia, sekitar 70 persen, adalah investasi residensial: investasi bangunan dan perumahan. Investasi bisnis hanya sekitar 15-20 persen dari investasi. Dengan porsi total investasi 20-30 persen dari ekonomi, investasi bisnis tak sampai 5 persen dari PDB.

Mengapresiasi kehebatan konsumsi dan melihat investasi bisnis dengan kacamata yang lebih akurat kelihatannya sepele, tapi implikasinya sangat besar. Ini tak hanya menentukan pandangan umum ekonom dan pelaku bisnis pada prospek ekonomi, tapi juga respons kebijakan yang sebaiknya dipilih oleh pemerintah.

Pertama, karena konsumsi sangat krusial bagi ekonomi Indonesia, pertumbuhannya harus dipandu secara hati-hati. Salah langkah, konsumsi bisa benar-benar melambat dan akibatnya ekonomi Indonesia bisa resesi kembali.

Bank Indonesia perlu mengamati konsumsi secara cermat dan mengakomodasi pertumbuhannya dengan ekspansi pasok uang yang sepadan. Ketika inflasi rendah seperti sekarang, mungkin tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, kalau kemudian inflasi merangkak naik, BI sebaiknya tidak gegabah membatasi pasok uang sehingga sampai menghambat ekspansi konsumsi.

Kedua, karena hanya 15-20 persen dari total investasi dan sebagian kecil dari ekonomi, investasi bisnis--dan dengan demikian juga penanaman modal asing--bukan segala-galanya, bukan penentu hidup-mati ekonomi Indonesia.

Penanaman modal asing memang belum bisa diharapkan sampai pemerintah memperbaiki iklim investasi untuk memenangkan kembali kepercayaan pemodal. Mengingat stempel juara korupsi yang terus menempel, ketidakpastian hukum, dan gangguan keamanan, mungkin perlu waktu lama sampai pemodal kembali berbondong-bondong ke Indonesia.

Artinya, selama itu pula pemerintah dan BI perlu lebih serius mendorong pertumbuhan investasi perumahan yang merupakan bagian terbesar investasi di Indonesia.

Sampai saat ini industri properti cenderung jalan di tempat. Kalau industri properti kembali tumbuh seperti sebelum resesi 1998, investasi secara keseluruhan membaik, dan ekonomi Indonesia bisa tumbuh tinggi kembali.

Ketiga, dan yang paling penting, pemerintah dan BI seharusnya jadi konduktor orkestra prediksi ekonomi yang lebih positif. Peran konsumsi perlu lebih diapresiasi dalam kebijakan moneter dan fiskal, bukan justru dipandang sebelah mata. Investasi bisnis yang "hanya" 5 persen tentu tak boleh diabaikan, tapi investasi residensial yang sebenarnya jauh lebih besar dan penting bagi ekonomi Indonesia juga perlu jadi fokus utama.

Siapa tahu, Oktober tahun depan, para komentator menyajikan aransemen tentang prospek ekonomi Indonesia yang tidak hanya lebih merdu dan optimistis, tapi juga lebih akurat.