Ekonomi 2004: Bersiap tancap gas?

Koran Tempo 29/12/2003. Mesin ekonomi naik ke persneling dua, diperkirakan tumbuh 4-5 persen. Itu konsensus prediksi ekonomi 2004. Tapi, akankah perkiraan menjadi kenyataan? Dan, bolehkah kita berharap ekonomi tumbuh lebih tinggi?

Jawaban mudahnya: harus. Ekonomi sudah terlalu lama tertatih, tumbuh hanya 3-4 persen per tahun. Kalau kita tak mau pengangguran terus menumpuk, ekonomi perlu segera tumbuh tinggi 6-7 persen seperti sebelum resesi.

Jawaban realistisnya: sulit. Karena pemerintah membelenggu tangannya sendiri untuk menurunkan defisit anggaran, kebijakan fiskal cenderung kontraktif, tak berdaya stimulus. Akibatnya, nasib ekonomi bergantung sepenuhnya pada garis tangannya sendiri. Kalau beruntung, ekonomi berputar cepat. Sebaliknya, kalau buntung, ekonomi tumbuh sekadarnya.

Tapi sulit bukan berarti tak mungkin. Lagi pula, banyak alasan untuk berharap pada 2004.

Lihat potret makroekonomi Indonesia yang makin berkilau. Kurs cenderung menguat, inflasi turun drastis, suku bunga perlahan mengikuti. Defisit anggaran terus ditekan, begitu juga dengan rasio utang luar negeri terhadap ekonomi. Peringkat utang luar negeri pemerintah pun naik kelas. Bursa saham tak ketinggalan, indeks berpacu ke tingkat tertingginya dalam empat tahun terakhir.

Kritikus paling tajam sekalipun, mau tak mau, angkat topi.

Potret memukau tentu tak cukup. Rupiah boleh menguat, inflasi boleh turun. Tapi apa artinya kalau pertumbuhan tetap rendah, kalau kemiskinan dan pengangguran terus bertambah?

Kuncinya adalah kurs stabil dan inflasi rendah. Bukan karena keduanya syarat utama pertumbuhan, tapi karena respons Bank Indonesia sangat bergantung padanya.

Selama ini kebijakan moneter praktis digunakan hanya untuk menjaga rupiah dan menurunkan inflasi. Sekarang, ketika inflasi masuk kandang, kita mungkin boleh berharap BI lebih bebas memainkan kebijakan moneter untuk juga mengakomodasi potensi ekspansi ekonomi.

Suku bunga kredit juga sudah turun perlahan. Setelah menyusut dua tahun terakhir, pasok uang tumbuh lagi, secara riil 6-8 persen per tahun sejak Mei lalu. Ekspansi uang sebesar ini lebih dari cukup untuk mengakomodasi pertumbuhan 4-5 persen tahun depan, atau bahkan lebih.

Kondisi moneter kondusif. Bagaimana dengan potensi pertumbuhan ekonomi?

Dulu, banyak yang khawatir ekspansi ekonomi akan kehabisan bensin di tengah jalan. Maklum, katanya, pertumbuhan beberapa tahun terakhir yang dipacu konsumsi tak akan berkelanjutan. Apalagi, katanya juga, konsumsi mulai melambat.

Ternyata, konsumen terus belanja dan belanja. Seperti pengalaman pascaresesi di negara lain, konsumsi terus memimpin pemulihan ekonomi. Memang pernah agak melambat, tapi kuartal ketiga 2003 konsumsi swasta kembali tumbuh tegar, hampir 5 persen secara tahunan.

Sekarang, keraguan pada konsumsi cenderung dikesampingkan, setidaknya untuk tahun depan. Semua ekonom tampaknya setuju konsumsi terus melaju. Berkat pesta kampanye dan pemilu.

Pemilu, dengan rapat koordinasi, kampanye, dan pengerahan massa partai politiknya, seakan jadi stimulus ekonomi pada 2004. Tradisi bagi-bagi uang untuk "membeli suara" kotor secara politik, tapi dampaknya pada pertumbuhan ekonomi positif karena meningkatkan konsumsi dan memutar roda ekonomi lebih cepat.

Jadi, konsumsi yang merupakan 70 persen ekonomi sekali lagi akan menjadi motor pertumbuhan. Sepanjang pemilu tak gaduh, ekspansi konsumsi tahun depan tak mungkin tersendat. Apalagi sentimen konsumen pada prospek ekonomi seperti diindikasikan berbagai survei juga makin positif.

Bagaimana dengan investasi?

Sayangnya, investasi bisnis diperkirakan tak akan melonjak tajam. Kita boleh yakin pemilu berlangsung lancar, tapi risikonya tetap ada. Pemodal mungkin ingin melihat bagaimana transisi politik berlangsung, dan menunggu sampai paruh kedua 2004 sebelum memutuskan akan menanamkan modalnya atau tidak.

Sebaliknya, meneruskan ekspansinya tahun ini, investasi properti tetap marak. Karena 70 persen investasi di Indonesia adalah investasi rumah tinggal dan bangunan, investasi secara keseluruhan tetap jadi penyumbang pertumbuhan ekonomi pada 2004.

Tentu ekonomi sangat membutuhkan investasi bisnis, untuk memperbesar kapasitas produksi dan menambah daya serap tenaga kerja. Hanya saja, karena investasi bisnis hanya sekitar 15-20 persen dari investasi, atau sekitar 5 persen dari ekonomi, investasi bisnis dan penanaman modal asing bukan segala-galanya, bukan penentu hidup-mati ekonomi Indonesia.

Singkatnya, walaupun investasi bisnis jalan di tempat, ekonomi 2004 bisa tumbuh 4-5 persen kalau kebijakan moneter mengakomodasi ekspansi konsumsi dan investasi properti. Bahkan bisa tumbuh lebih tinggi kalau ekonomi dunia juga tumbuh tinggi kembali.

Yang terakhir, prospek ekonomi dunia pada 2004 perlu digarisbawahi.

Pemulihan ekonomi Indonesia gagal menangkap gelombang pasang ekonomi dunia pada saat yang tepat. Ekonomi dunia yang tumbuh tinggi sejak 1999 melambat pada 2001 ketika ekonomi Indonesia baru bangkit dari resesi. Akibatnya, ekonomi Indonesia yang sempat tumbuh hampir 5 persen pada 2000 kemudian melambat ke 3-4 persen per tahun karena hanya mengandalkan konsumsi.

Sekarang, cuaca ekonomi dunia cerah kembali, dan ekonomi Indonesia sudah siap menaiki gelombang pasangnya. Pada kuartal ketiga tahun ini ekonomi dunia secara mengejutkan tumbuh 5 persen lebih. Pada 2004, ekonomi dunia diperkirakan tetap tumbuh tinggi karena keempat motor ekonomi dunia--Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Eropa--tumbuh secara bersama-sama.

Sejalan dengan ekspansi ekonomi dunia, kinerja ekspor Indonesia diharapkan menjadi motor pertumbuhan tambahan di samping konsumsi. Peningkatan ekspor juga akan mengurangi tekanan pada transaksi berjalan akibat ekspansi impor dan pembengkakan defisit neraca modal.

Tak lama lagi, matahari baru akan menyingsing. Dengan penuh harap, mari nikmati perjalanan ekonomi 2004.

Kalau perlu prediksi pertumbuhan, angka 4-5 persen cukup realistis. Tapi, selalu buka mata lebar-lebar. Barangkali saja kita beruntung: pertarungan partai politik bersih, rupiah stabil, dan ekonomi dunia tumbuh tinggi. Siapa tahu ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen lebih pada 2004, dan dalam waktu singkat tancap gas tumbuh tinggi 6-7 persen kembali seperti sebelum resesi.*