Presiden perubahan?

Koran Tempo 08/10/2004. Jadi, Susilo Bambang Yudhoyonolah presiden baru kita. Mampukah dia menyajikan perubahan yang dituntut rakyat pemilihnya? Akankah mereka kembali dikecewakan? Ke mana SBY membawa ekonomi Indonesia selama lima tahun mendatang?

Ini pertanyaan penting--masalah penting bagi orang miskin di kampung-kampung seantero negeri, urusan hidup-mati bagi pengangguran yang selalu menyerbu bursa tenaga kerja, dan isu krusial bagi pengusaha yang sedang bangkit berlari.

Pengamat mengatakan, program ekonomi SBY dan Megawati tak akan jauh beda. Kalau mereka benar, stabilitas makroekonomi tetap jadi tujuan utama. Pemerintahan SBY akan menyeimbangkan anggaran: defisit anggaran terus diturunkan, kalau perlu dengan memotong belanja pemerintah. Bank Indonesia pun akan diminta untuk memangkas inflasi dengan memperketat kebijakan moneter.

Lalu, bagaimana kalau pertumbuhan ekonomi rendah dan angka pengangguran meningkat? Itu urusan belakangan.

Tetapi, benarkah begitu?

Yang pasti, bukan SBY seperti ini yang diinginkan pemilih. Potret makroekonomi yang berkilau mungkin membanggakan, tetapi apa artinya kalau Anda kelaparan? Itu tidak ada artinya bagi rakyat yang hidup pas-pasan, tidak juga bagi para penganggur.

Bagaimana persisnya kebijakan ekonomi SBY hanya bisa kita ketahui setelah dia memerintah. Namun, sedikit-banyak, kita bisa menduga-duga wajah SBY yang sebenarnya.

Akhir pekan lalu di kampus Institut Pertanian Bogor, kita dengar SBY "berkampanye", bukan di depan massa pendukungnya, tetapi di hadapan sekelompok dosen penguji. SBY berhasil mempertahankan disertasi doktornya. Tentang apa? Kata kunci disertasinya banyak bercerita tentang petani, pedesaan, kemiskinan, pengangguran, upah, infrastruktur, dan kebijakan fiskal.

SBY menyimpulkan, kebijakan fiskal, dengan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan irigasi, bisa membangkitkan ekonomi pedesaan. Kalau ekonomi pedesaan berkembang, pengangguran dan kemiskinan pun bisa dikurangi.

SBY juga tak segan bicara tentang masalah ekonomi Indonesia. Di majalah The Economist dua pekan lalu dengan gamblang dia bercerita bahwa ekonomi Indonesia belum pulih karena iklim berusaha buruk. Sebut saja maraknya mogok kerja yang menaikkan biaya tenaga kerja dan menurunkan produktivitas. Di samping itu, katanya, desentralisasi memicu kesimpangsiuran peraturan pemerintah pusat dan daerah. Belum lagi soal bank yang enggan menyalurkan kredit dan investasi asing yang belum pulih kembali.

Semua ini tentu tak mengindikasikan seberapa penting stabilisasi makroekonomi bagi SBY. Tetapi, satu hal yang pasti, kalau SBY benar-benar yakin dengan disertasinya, dia juga sangat peduli pada pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran.

Kalau begitu, stabilitas makroekonomi tak bisa lagi jadi prioritas SBY. Stabilitas tentu penting, tetapi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan lebih penting lagi.

Untuk mendorong ekonomi pedesaan, SBY harus berpikir seribu kali sebelum memotong defisit anggaran dengan mengurangi pengeluaran pembangunan. Kita baru bicara tentang pembangunan infrastruktur, belum anggaran untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan publik yang dia janjikan selama kampanye.

SBY tak boleh alergi pada defisit anggaran dan inflasi. Defisit anggaran perlu diturunkan, tapi tak perlu dipangkas drastis ketika ekonomi tumbuh perlahan. Inflasi rendah juga sangat bagus, tapi kondisi moneter jangan sampai terlalu ketat sehingga menghambat potensi pertumbuhan.

Ini bukan pekerjaan mudah. Beban anggaran pemerintah sangat berat. Untuk membiayai pembangunan, penerimaan pajak harus terus dinaikkan, dengan memperluas obyek pajak dan memerangi penggelapan pajak. Meroketnya harga minyak menambah beban subsidi berlipat ganda. Beranikah SBY memangkas subsidi minyak yang tak perlu dan memfokuskannya hanya pada rakyat miskin yang membutuhkan?

Beban utang pemerintah juga sangat berat. Maukah SBY mengusahakan penjadwalan kembali utang luar negeri dan merekayasa finansial utang dalam negeri untuk memberi ruang gerak bagi kebijakan fiskal dalam jangka pendek? Program pemerintah juga rentan korupsi. Mampukah SBY menggebrak, memberi terapi kejut, supaya koruptor jadi kecut dan program pembangunan berjalan efektif?

BI juga terobsesi menurunkan inflasi secara drastis dalam jangka pendek. Maukah SBY meminta BI menunda penurunan inflasi sampai ekonomi tumbuh tinggi kembali, mentargetkan kembali penurunan inflasi dalam 5-10 tahun sehingga tidak mengganggu pemulihan ekonomi?

Kita boleh berharap. Ekonom-ekonom di belakang SBY bukan ekonom konservatif yang mendominasi debat kebijakan ekonomi di media massa. Irsan Tanjung, ekonom Universitas Indonesia dari Partai Demokrat, misalnya, tak ragu memperbesar belanja pemerintah dan defisit anggaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Seperti dikutip Tempo minggu lalu, dia memandang stabilitas makroekonomi perlu, tapi ketika investasi belum pulih, pemerintah perlu turun tangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meyakinkan pemodal pada prospek ekonomi.

Joyo Winoto, ekonom dari The Brighten Institute yang juga mendukung SBY, ingin menghidupkan kembali sektor pertanian dan ekonomi pedesaan untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Dia sepakat dengan disertasi SBY tentang pentingnya pembangunan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan dan mengurangi pengangguran.

Dalam hitungan hari, kita akan lihat wajah SBY yang sebenarnya. Potret pertamanya akan terpampang lewat pilihan menteri-menteri ekonominya. Akankah SBY mengangkat ekonom konservatif seperti halnya Megawati ataukah dia memilih ekonom beraliran liberal seperti Irsan Tanjung? Akankah SBY mengangkat Jaksa Agung yang berani dan mampu menggebrak dunia ekonomi yang dijangkiti korupsi kronis?

SBY bisa mengikuti jalan mudah Megawati: memprioritaskan stabilitas makroekonomi dan menyembunyikan masalah pengangguran dan kemiskinan di balik kegemerlapannya.

Sebaliknya, SBY bisa menjadi Presiden Perubahan seperti yang dia janjikan, memimpin pemulihan ekonomi dengan memanfaatkan setiap peluang fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan. SBY tak sekadar memajang disertasi doktornya di lemari buku, tapi juga menjadikannya landasan semangat kebijakan pengembangan ekonomi pedesaan dan sektor pertanian.

Sebaiknya begitu. Rakyat akan mengamati setiap langkah SBY. Megawati telah menunjukkan bagaimana caranya mengecewakan wong cilik pendukungnya. SBY tentu tak ingin bernasib sama lima tahun mendatang.*