Tahun lepas landas?

Koran Tempo 30/12/2004. Bagaimana prospek ekonomi 2005? Google saja. Ketikkan kata kunci dan dalam sekejap hasilnya terangkum: lebih cerah, menjanjikan, membaik.

Sulit dipercaya, tapi akhirnya berhenti sudah ritual kor prediksi suram setiap akhir tahun; hilang sudah peringatan ketidakberlanjutan fiskal atau mimpi buruk resesi jilid kedua. Untuk pertama kalinya sejak krisis 1998, pejabat, ekonom, IMF, dan Bank Dunia sepakat menyanyikan lagu ceria.

Tentu saja hal ini menggembirakan. Tapi lebih cerah dibandingkan dengan apa? Dan untuk siapa?

Pemerintah mentargetkan, dan banyak ekonom menyepakati, ekonomi 2005 tumbuh 5,5 persen. Dibandingkan dengan pertumbuhan 3-4 persen beberapa tahun terakhir, target ini bagus sekali. Tapi, dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan tahun 2004 yang 5 persen lebih, apakah target 5,5 persen tahun depan mengesankan? 


Saya kira tidak. Ibaratnya, ekonomi Indonesia seperti batu yang sedang menggelinding. Awalnya, ekonomi tumbuh perlahan 3-4 persen, sekarang 5 persen lebih. Momentum pertumbuhannya besar. Tak ada dinding menghadang. Batu mengganjal pun tidak.

Pemilihan umum sukses, Susilo Bambang Yudhoyono menang mutlak, dan sekarang Golkar pun di tangan. Seperti ditunjukkan berbagai survei, konsumen dan pengusaha kembali bergairah. Kredit perbankan mengalir, investasi bangkit, ekspor pun meningkat. Kalau ada batu kerikil, paling kenaikan harga minyak dunia. Tanpa diapa-apakan pun, ekonomi 2005 bisa tumbuh 5,5 persen.

Saya heran, mengapa pemerintah enggan mentargetkan pertumbuhan lebih tinggi. Sepertinya pemerintah cari amannya saja: pasang target sesuai dengan tren, waktu berjalan, dan akhir tahun target tercapai. Syukur-syukur kalau target terlampaui.

Megawati sendiri mengakui dalam pidato kenegaraannya di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada Agustus lalu, target pertumbuhan 2005 tidak cukup mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakri juga mengiyakan. Lalu mengapa target pemerintah hanya 5,5 persen?

Barangkali ini mengindikasikan prioritas pemerintah SBY ternyata sama saja dengan Megawati: stabilitas, stabilitas, dan stabilitas. Fokus utama pemerintah adalah anggaran berimbang dan inflasi rendah. Kalau ekonomi tumbuh perlahan dan pengangguran meningkat, apa mau dikata. Bersabarlah dua atau tiga tahun lagi, ekonomi akan tumbuh 6-7 persen dan angka pengangguran akan turun.

Ini kontras sekali dengan ingar-bingar kampanye pemilihan presiden dulu. Teringat jelas janji SBY yang mengutamakan pertumbuhan untuk mengatasi masalah pengangguran. Juga disertasinya yang menyimpulkan peran penting pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi untuk membangkitkan ekonomi pedesaan.

Sedihnya, ekonomi bisa jadi korban prediksi pelaku ekonominya sendiri (self-fulfilling prophecy). Target pemerintah menentukan rencana penerimaan dan belanja negara. Rencana ini tentu diupayakan jadi kenyataan. Sebagai pelaku ekonomi terbesar, 15-20 persen dari produk domestik bruto, dampak rencana pemerintah yang jadi kenyataan ini pada pertumbuhan sangat besar. Pemerintah memangkas belanja, ekonomi bisa tumbuh perlahan. Pemerintah memompa pengeluaran, ekonomi mungkin tumbuh lebih tinggi.

Apalagi kalau kemudian pengusaha menjadikan target pemerintah ini sebagai dasar ekspansi usaha mereka pada 2005. Akhirnya ramalan bisa jadi kenyataan, dan ekonomi 2005 benar-benar tumbuh 5,5 persen.

Bicara pengangguran, mari kembali ke pertanyaan kedua: ekonomi 2005 cerah untuk siapa?

Untuk kelompok berpendapatan menengah seperti Anda dan saya, pertumbuhan 5,5 persen bolehlah. Tapi apakah sepuluh juta penganggur puas? Sudah kita lihat, ketika ekonomi tumbuh 3-4 persen, atau bahkan 5 persen seperti tahun ini, angka pengangguran terus meningkat. Sejak prakrisis, hampir dua kali lipat.

Kalau ekonomi 2005 tumbuh 5,5 persen, lapangan kerja yang tercipta paling hanya cukup menyerap angkatan kerja baru. Lalu bagaimana dengan sepuluh juta penganggur saat ini? Bagaimana dengan puluhan juta setengah-penganggur yang antara bekerja dan tidak? Maukah mereka bersabar dua sampai tiga tahun lagi? Apakah mereka peduli pada potret moneter yang berkilauan atau indeks saham menembus seribu?

Saya bukan mau mengesankan pertumbuhan 5,5 persen buruk. Bukan. Lima setengah persen bagus. Masalahnya, kita perlu, dan mampu, tumbuh lebih tinggi. Dengan momentum 5 persen lebih tahun ini, pertumbuhan 6 persen tahun depan dalam jangkauan.

Syaratnya, pemerintah merevisi RAPBN 2005, mentargetkan pertumbuhan 6 persen, menggali sumber penerimaan lebih dalam, mengelola utang (kalau perlu dengan rekayasa keuangan), mengupayakan pengurangan utang, dan membelanjakannya terutama untuk pembangunan sekolah, kesehatan, jalan, jembatan, dan irigasi.

Kalau defisit anggaran perlu 1,5 persen dari PDB, mengapa tidak? Kalau inflasi naik kembali ke 7 atau 8 persen, mengapa buru-buru mengerem kebijakan moneter?

Sayangnya, pemerintah sudah berketetapan hati. Sekalipun begitu, jangan putus asa. Bukan rahasia kalau ramalan ekonom sering meleset. Target pertumbuhan pemerintah juga. Tahun ini, misalnya, target pertumbuhan 4,8 persen, ternyata ekonomi diperkirakan tumbuh 5 persen lebih.

Ramalan ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) dan IMF pun sering salah. Akhir tahun lalu, ADB, misalnya, meramalkan ekonomi 2004 tumbuh hanya 4,5 persen. Pertengahan tahun, ramalan ini direvisi menjadi 4,8 persen. Sekarang kita tahu ekonomi 2004 bisa tumbuh 5 persen lebih. Ibarat menembak terarah ke jantung, lengan yang kena.

Meramal masa depan memang bukan pekerjaan gampang. Memperkirakan titik balik ekonomi--kapan resesi menyerang dan kapan ekonomi lepas landas--lebih sulit lagi. Siapa yang menduga ekonomi Indonesia terpangkas 13 persen pada 1998? Siapa yang dulu yakin ekonomi 2004 bisa tumbuh 5 persen lebih?

Ketika ekonomi sedang jatuh resesi atau bangkit pulih kembali, ekonom biasanya dapat memperkirakan pertumbuhan secara akurat hanya untuk satu atau dua kuartal ke depan. Perkiraan tahunan hampir selalu luput.

Jadi, tetaplah optimistis. Tiuplah trompet tahun baru dengan sejuta harapan baru. April atau Mei nanti, mainkan lagi Google dan cari "prospek ekonomi 2005". Siapa tahu para ekonom, dan pemerintah, merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi ke 6 persen atau bahkan lebih.